Artikel RSA UGM

Refleksi Hari Perawat Nasional

Oleh: Rizki Puji Agustin, S.Kep, Ners, M.Sc

Sumber: RSA UGM, 2025

Setiap tanggal 17 Maret, Indonesia memperingati Hari Perawat Nasional Indonesia, sebuah momentum untuk menghargai dedikasi, ketangguhan, dan komitmen para perawat yang setiap hari berada di garis terdepan pelayanan kesehatan. Bagi perawat di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, peringatan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pengingat tentang makna profesi yang dijalani: menjaga mutu pelayanan keperawatan, membimbing perawat generasi masa depan, serta terus mengembangkan ilmu melalui penelitian sebagai bagian dari semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kami adalah Perawat.

Dan untuk Anda, kami melakukan semua ini.

 Kami bekerja dengan caring.

Bagi kami, caring bukan sekadar istilah dalam buku keperawatan. Caring adalah cara kami memandang manusia secara utuh, dengan segala kompleksitas tubuh, pikiran, dan perasaannya.

 Setiap hari kami berhadapan dengan tubuh manusia.

Kami mengamati, mendengarkan, dan merasakan bagaimana tubuh bekerja. Bagaimana sel, jaringan, otot, organ, hingga sistem tubuh saling terhubung membentuk kehidupan. Dari sana kami belajar mengenali tanda-tanda yang sangat halus: kapan tubuh berada dalam kondisi sehat, dan kapan sesuatu mulai berubah. Melakukan monitoring adalah salah satu kegiatan utama kami.

 Kami juga berhadapan dengan penyakit.

Kami melihat bagaimana penyakit mencoba mengganggu keseimbangan tubuh manusia. Kami mempelajari bagaimana ia muncul, berkembang, dan memengaruhi kehidupan seseorang. Dengan memahami pola dan mekanismenya, kami berupaya membantu menghentikannya atau setidaknya memperlambat perkembangannya demi menjaga kehidupan yang sedang kami rawat.

Kami merawat dengan berbagai cara.

Delegasi pemberian obat, asistensi tindakan medis, monitoring terapi, sentuhan yang menenangkan, kata-kata yang memberi harapan, kesabaran, dan perhatian. Tidak jarang, penyembuhan tidak hanya datang dari terapi obat. Tubuh manusia membutuhkan dukungan emosional, rasa aman, dan waktu untuk pulih. Di situlah kami hadir, menjaga agar semua itu tetap ada.

Kami memahami gerakan tubuh.

Kami mengenali bagaimana tubuh bergerak ketika sehat, dan bagaimana gerakan itu berubah ketika terjadi gangguan. Cara seseorang duduk, berjalan, atau bahkan bernapas dapat memberi petunjuk penting. Kadang, menyelamatkan nyawa dimulai dari hal sederhana: mengubah posisi tubuh agar napas lebih lega, agar aliran darah tetap lancar, agar oksigen sampai ke seluruh tubuh. Tidur dengan posisi seperti bayi tidak hanya dilakukan saat patah hati, posisi tersebut adalah mekanisme koping secara fisik dan bisa menyelamatkan jiwa.

Kami bekerja berlandaskan ilmu pengetahuan.

Biologi, kimia, fisiologi, farmakologi, hingga teknologi kesehatan menjadi bagian dari praktik kami. Dalam dunia keperawatan, ketelitian adalah keharusan. Satu kesalahan kecil dapat membawa dampak besar. Karena itu, setiap tindakan harus dilakukan dengan pengetahuan yang kuat dan tanggung jawab profesional.

Kami juga belajar dari sejarah.

Sejarah penyakit, perkembangan alat medis, hingga evolusi praktik keperawatan. Dari masa lalu itulah kami memahami bagaimana dunia kesehatan dan keperawatan berkembang agar pelayanan yang kami berikan hari ini menjadi lebih baik, dan masa depan menjadi lebih maju.

Kami menghormati keberagaman budaya.

Setiap pasien datang dengan latar belakang yang berbeda. Perbedaan nilai, keyakinan, kebiasaan, dan cara pandang terhadap kesehatan. Memahami semua itu membantu kami merawat manusia secara utuh, bukan sekadar menangani penyakitnya.

Kami bekerja dengan etika.

Dalam dunia kesehatan, tidak semua keputusan bersifat hitam atau putih. Ada situasi sulit yang menuntut pertimbangan cepat namun tetap bijaksana. Ada janin yang harus diterminasi demi menyelamatkan ibunya, ada momen kami berlari melakukan resusitasi pada remaja yang henti jantung di saat yang sama dengan kami diam memberi ruang saat eyangmu meninggal. Kami harus menyeimbangkan nilai kemanusiaan, keselamatan pasien, dan tanggung jawab profesional dalam setiap keputusan yang diambil.

Kami mengenali warna-warna.

Merah, kuning, dan hitam bagi kami bukan sekadar warna. Ketika kami mengatakan Anda “merah”, waspadalah. Itu bisa berarti kondisi Anda sangat serius. Hitam bisa berarti kematian. Hijau bukan tentang rasa iri, dan biru jauh lebih dari sekadar kesedihan. Putih juga bukan hanya warna dinding rumah sakit; bisa jadi itu katarak di mata Anda, atau bayangan putih di paru-paru pada hasil pemeriksaan. Bagi kami, semuanya tentang warna. Karena pada akhirnya dalam dunia kesehatan tidak semuanya hitam dan putih saja.

Kami memahami komunikasi manusia.

Kami melihat dinamika hubungan dalam keluarga, emosi yang tersembunyi, dan bagaimana seseorang menghadapi penyakitnya. Perubahan warna kulit, ekspresi wajah, bahasa tubuh, bahkan keheningan seseorang dapat menjadi informasi penting. Kadang seseorang berkata “saya baik-baik saja,” tetapi tubuhnya menyampaikan cerita yang berbeda. Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tubuh, tetapi juga dengan pikiran, emosi, dan hubungan sosial.

Kami juga akrab dengan diam.

Ada keheningan ketika rasa sakit akhirnya mereda. Ada pula keheningan ketika kehidupan perlahan meninggalkan seseorang. Kami hadir dalam kedua momen itu, baik dalam kebahagiaan maupun dalam kehilangan.

Kami mengenal rasa sakit dengan sangat dekat.

Tugas kami sering kali adalah mengurangi rasa sakit. Namun dalam beberapa keadaan, kami juga harus melakukan tindakan yang menimbulkan ketidaknyamanan demi proses penyembuhan. Di balik setiap keluhan, air mata, atau kemarahan pasien, kami melihat satu hal yang sama: seseorang yang sedang berjuang.

Kami bekerja melawan waktu.

Beberapa detik dapat menentukan hidup atau mati. Beberapa menit dapat menentukan apakah otak seseorang akan selamat. Berapa menit tubuh pasien akan bereaksi jika dia alergi. Ada pula pasien yang kami dampingi selama bertahun-tahun dalam perjalanan pemulihan mereka. Waktu selalu menjadi bagian dari setiap keputusan yang kami buat.

Kami juga memahami sistem kesehatan.

Kami bekerja dalam tim, berkolaborasi dengan berbagai profesi, mengelola sumber daya, dan memastikan pelayanan tetap berjalan dengan aman dan efektif. Kami bukan hanya bagian dari sistem kesehatan, kami adalah penggeraknya.

Kami memimpin dengan melayani.

Kami membersihkan luka, membantu pasien makan, merapikan tempat tidur, menenangkan keluarga, dan menjaga pasien sepanjang malam. Hal-hal kecil yang sering tidak terlihat itu justru menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.

Namun kami bukan sekadar “membantu”.

Kami adalah advokat pasien. Kami adalah pendidik. Kami adalah mitra dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Kami berdiri di garis terdepan pelayanan kesehatan. Kami hadir di rumah sakit, klinik, puskesmas, komunitas, hingga daerah terpencil yang sulit dijangkau layanan kesehatan. Di mana pun masyarakat membutuhkan perawatan, di situlah kami berada.

Kami adalah perawat.

Dan setiap hari, dengan ilmu, keterampilan, empati, serta dedikasi, kami menjalankan satu prinsip yang menjadi inti profesi kami: ilmu dan seni dalam caring.

Untuk Anda.

Untuk keluarga Anda.

Untuk masyarakat.

Salam friendly and caring dari kami,

Perawat Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada.

Read More »

Tips Cerdas Memilih Makanan Ditengah Hidangan Yang Melimpah

Oleh: Mutia Nur Amalina, S.Tr.Gz | Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, Dietisien

Hari Raya Idul Fitri merupakan hari yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya, baik bagi umat muslim maupun masyarakat Indonesia lainnya. Idul Fitri menjadi momen berkumpul bersama keluarga yang juga identik dengan berbagai sajian makanan seperti opor ayam, rendang daging, berbagai kue manis, dan sebagainya. Makanan khas lebaran cenderung memiliki kandungan kalori, lemak, gula yang tinggi.

Oleh karena itu, kita perlu mengetahui bagaimana cara mengkonsumsi hidangan tersebut agar tetap sehat dan tidak menimbulkan masalah kesehatan baru setelah lebaran. Berikut tips cerdas memilih makanan di tengah hidangan yang melimpah:

  1. Mengontrol nafsu dan porsi makan

Perlunya kontrol diri saat dihadapkan dengan makanan yang melimpah. Hindari makan berlebihan dan tetap sesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Meskipun sedang merayakan hari raya, usahakan komposisi piring makan tetap seimbang. Menggunakan piring yang lebih kecil juga dapat membantu kita untuk mengkontrol diri saat memilih hidangan yang tersaji.

  1. Batasi makanan tinggi lemak dan tinggi gula

Makanan yang sering disajikan saat lebaran cenderung memiliki kandungan lemak dan gula yang tinggi. Makanan yang mengandung tinggi gula, santan, lemak jenuh, serta minyak berlebih yang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Batasi konsumsi minuman manis atau kemasan maksimal 1x/hari dan kue kering idealnya hanya 10–20 persen dari total asupan kalori harian atau maksimal 5 keping perhari. Disarankan penggunaan daging tanpa lemak atau ayam tanpa kulit untuk mengurangi kandungan lemak dalam masakan.


Pedoman “Isi Piringku” dapat memberi kita gambaran porsi makan dalam satu piring yang terdiri dari 50% buah sayur, dan 50% terdiri dari karbohidrat dan protein. Tambahkan menu sayur yang tidak bersantan sebagai hidangan saat lebaran seperti sayur sup atau sayur tumis.

  1. Perbanyak makanan sumber serat

Kandungan serat yang banyak ditemukan pada sayur dan buah dapat membantu kita menurunkan nafsu makan dengan menimbulkan perasaan kenyang yang lebih lama. Selain itu serat makanan mampu mengikat kelebihan  glukosa, juga mengikat kelebihan kolesterol  sehingga  mengurangi penyerapan dan peningkatan kolesterol dalam darah. Menyajikan buah segar di meja makan seperti semangka, melon, jeruk, kelengkeng, dan lain-lain adalah pilihan yang tepat.

  1. Aktivitas Fisik

Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari untuk pengeluaran energi yang seimbang. Bisa dimulai dengan aktivitas fisik ringan seperti jalan santai, bersepeda, atau berolahraga ringan.

Selain menjaga hubungan silaturahmi, menjaga kesehatan juga sama pentingnya saat hari raya lebaran. Dengan pola makan yang baik, kita bisa tetap menikmati hidangan khas lebaran tanpa mengorbankan kesehatan tubuh. Terjaganya kesehatan saat lebaran akan membantu kita agar dapat bersilaturahmi dengan sehat dan nyaman

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tips Sehat Mengonsumsi Hidangan Lebaran. (https://ayosehat.kemkes.go.id/tips-sehat-menikmati-menu-lebaran). Direvisi terakhir 24 April 2023. Diakses pada 10 Maret 2026.
  2. Wiardani, N. K., Dewantari, N. M., Purnami, K. I., & Prasanti, P. (2018). Hubungan Asupan Lemak dan Serat dengan Kadar Kolesterol pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Ilmu Gizi : Journal of Nutrition Science, 7(2), 35–41. https://doi.org/10.33992/jig.v7i2.397
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Isi Piringku: Pedoman Makan Kekinian Orang Indonesia. (https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku-pedoman-makan-kekinian-orang-indonesia). Direvisi terakhir 13 Desember 2022. Diakses pada 10 Maret 2026.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.. Cegah Meningkatnya Diabetes, Jangan Berlebihan Konsumsi Gula, Garam, Lemak. (https://kemkes.go.id/id/cegah-meningkatnya-diabetes-jangan-berlebihan-konsumsi-gula-garam-lemak). Direvisi terakhir 31 Januari 2024. Diakses pada 10 Maret 2026.
  5. Fiqih Rahmawati. Batas Aman Makan Kue Kering saat Lebaran, Apa yang Terjadi Jika Berlebihan?. (https://www.kompas.tv/entertainment/285529/batas-aman-makan-kue-kering-saat-lebaran-apa-yang-terjadi-jika-berlebihan?). Diakses pada 12 Maret 2026
Read More »

Gerai ZIS RSA UGM Berbagi Sembako untuk Keluarga Pasien Dhuafa di Bulan Ramadhan

Yogyakarta – Bulan suci Ramadhan menjadi momentum untuk berbagi dan memperkuat kepedulian sosial. Gerai ZIS Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) kembali menyalurkan bantuan melalui kegiatan Berbagi Sembako Dhuafa pada Jumat, 13 Maret 2026.

Program berbagi ini menyasar keluarga pasien rawat inap PBI (Penerima Bantuan Iuran) BPJS Kesehatan yang sedang mendampingi anggota keluarganya menjalani perawatan di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada.

Pembagian sembako dilakukan dengan cara mengunjungi keluarga pasien secara langsung di ruang rawat inap Gedung Bima 3 dan Srikandi 3. Pendekatan ini dilakukan agar bantuan dapat diberikan secara langsung sekaligus menghadirkan dukungan moral bagi keluarga pasien yang sedang menghadapi masa sulit.

Kegiatan berbagi sembako ini juga melibatkan para tenaga medis dari RSA UGM. Tiga dokter turut hadir dan secara langsung menyerahkan paket bantuan kepada keluarga pasien. Mereka adalah Adam Moeljono, Siswanto, dan Ahmad Fikri Syadzali.

Melalui kegiatan ini, Gerai ZIS RSA UGM berharap bantuan sembako yang disalurkan dapat membantu meringankan beban keluarga pasien yang membutuhkan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi amal jariyah bagi para donatur yang telah berpartisipasi dalam program sosial tersebut.

Gerai ZIS RSA UGM secara konsisten menghadirkan berbagai program sosial yang bertujuan untuk memperkuat nilai kemanusiaan, kepedulian, dan semangat berbagi di lingkungan rumah sakit. Momentum Ramadhan menjadi kesempatan untuk menebarkan kebaikan sekaligus menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang menghadapi ujian kesehatan.

(Humas RSA UGM)

Read More »

Superflu: Waspada Namun Tidak Perlu Panik

Oleh: dr. Christian Febriandri Sp.P

APA ITU SUPER FLU?

Super flu adalah istilah yang menggambarkan gelombang flu influenza A(H3N2) subclade K yang pertama kali diindentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025. Secara global terjadi peningkatan kasus influenza seperti terpantau di Amerika serikat sejak minggu ke 40 tahun 2025, seiring dengan masuk ke musim dingin. Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di beberapa Negara, antara lain: Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura dan Thailand.

Super Flu 2025 di Indonesia
Super Flu 2025 di Indonesia

Di Indonesia, berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi dengan jumlah terbanyak di Jawa timur, Kalimantan selatan dan Jawa barat.

BAGAIMANA SUPERFLU MENULAR?

Penularan superflu terjadi dengan sangat mudah, terutama melalui:

  • Percikan droplet dari batuk atau bersin
  • Kontak dekat dengan penderita
  • Menyentuh benda yang terkontaminasi virus lalu menyentuh wajah

Lingkungan tertutup dan padat seperti sekolah, kantor, dan transportasi umum menjadi tempat favorit penyebaran virus influenza.

GEJALA YANG PERLU DIWASPADAI?

Gejala superflu biasanya muncul mendadak dan lebih berat dibanding flu biasa, antara lain:

  • Demam tinggi
  • Batuk kering
  • Sakit tenggorokan
  • Nyeri otot dan sendi
  • Sakit kepala
  • Tubuh terasa sangat lelah

Pada kasus tertentu, influenza dapat berkembang menjadi pneumonia atau memperparah penyakit kronis seperti asma dan penyakit jantung.

CARA MENCEGAH SUPERFLU?

Beberapa langkah sederhana namun efektif untuk mencegah influenza antara lain:

  1. Vaksin influenza setiap tahun
  2. Rutin mencuci tangan dengan sabun
  3. Menggunakan masker saat sakit
  4. Menjaga pola hidup sehat dan istirahat cukup

Vaksin influenza terbukti dapat menurunkan risiko sakit parah, rawat inap, hingga kematian akibat influenza.

KESIMPULAN

Superflu bukan sekadar flu biasa. Dengan tingkat penularan yang tinggi dan potensi komplikasi serius, influenza perlu ditangani dengan kesadaran dan pencegahan yang baik. Vaksinasi dan perilaku hidup bersih adalah kunci utama untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar kita. Ingatlah selalu untuk menjaga kesehatan dan periksakan diri anda ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala.

SUMBER REFERENSI

  • World Health Organization. (2023). Influenza (Seasonal)
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Types of Influenza Viruses
  • Kementerian Kesehatan RI. (2021). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Influenza
  • Taubenberger, J. K., & Morens, D. M. (2008). The pathology of influenza virus infections
Read More »

Mewujudkan Gizi Optimal dengan Pangan Lokal bagi Generasi Emas

Oleh: Alvita Ghaisani, S.Gz | Editor: Pratiwi Dinia Sari, S.Gz., R.D.

Indonesia dihadapkan dengan triple burden malnutrition yaitu kekurangan gizi (yang ditandai dengan stunting, wasting), kelebihan status gizi (overweight, obesitas) dan kekurangan zat gizi mikro (anemia, GAKY, dll). Hasil dari SSGI 2024 menunjukkan prevalensi wasting pada balita mencapai 7,4%, stunting mencapai 19,4% dan overweight 3.4% (Unicef, 2025). Nutrisi yang adekuat sangat krusial terutama dalam periode kritis 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) di mana perkembangan otak dalam masa yang sangat pesat untuk mencerna informasi.

     Apabila individu pada setiap kelompok usia memiliki asupan nutrisi yang memadai, potensi diri akan lebih optimal sehingga dapat memutus rantai kemiskinan dan kesenjangan sehingga dapat meningkatkan kualitas negara (Zulfiani, 2024).  Kesehatan yang optimal masuk dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang memiliki target untuk menjamin kehidupan bangsa yang sehat bagi semua kelompok usia pada tahun 2030. Hal ini selaras dengan visi pemerintah untuk Indonesia tahun 2045 menjadi negara berdaulat, maju, adil dan makmur (Gunardi, 2021).
Pemenuhan gizi adekuat dapat diterapkan sehari-hari dengan mengonsumsi makanan dari sumber pangan alami serta mengacu pada pedoman gizi seimbang. Sumber pangan alami yang dimaksud yaitu makanan dari bahan alami yang mengalami minim proses dan tidak mengandung bahan kimia sehingga kandungan nutrisinya masih utuh. Manfaat dari mengonsumsi bahan pangan alami adalah memberikan nutrisi optimal yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi dan balita, menjaga kesehatan bagi kelompok dewasa dan lansia serta mengurangi risiko terjadi sindrom metabolik di masa depan (Siregar et al, 2025).

            Pola makan sangat menentukan kesehatan. Saat ini, pola makan mengalami pergeseran karena terjadi peningkatan konsumsi Ultra-Processed Food (UPF). Makanan Ultra-Processed Food telah melewati banyak proses dan olahan serta mengandung kandungan natrium, gula dan lemak jenuh yang cukup tinggi serta rendah mikronutrien (Kurniawati, 2025). Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi UPF secara berlebih meningkatkan prevalensi hipertensi sebesar 21% di Kanada, yang dapat mengganggu keseimbangan tekanan darah (Nardocci et al, 2021). Contoh makanan UPF antara lain minuman ringan berkarbonasi, makanan ringan kemasan, makanan siap saji dan sebagainya.

            Pola makan dengan mengonsumsi bahan alami dapat dimulai dari rumah dan dari keluarga. Orang tua memiliki peranan penting dalam membentuk pola makan anak sehingga anak memiliki kebiasaan untuk mengonsumsi makanan minim proses. Pola makan gizi seimbang mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan yaitu isi piringku. Untuk pembagian porsi nya dapat dilihat di gambar bawah berikut:

Mewujudkan Gizi Optimal dengan Pangan Lokal bagi Generasi Emas
Mewujudkan Gizi Optimal dengan Pangan Lokal bagi Generasi Emas

            Pada pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan direkomendasikan bahwa setengah porsi makanan kita berupa menu sayur dan buah. Sepertiga piring berisi makanan pokok dan sisanya berupa lauk-pauk sebagai sumber protein. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat bisa dipenuhi dari berbagai macam jenis makanan, seperti nasi putih, nasi merah, ubi, kentang, singkong, jagung, dan lain-lain. Jenis sayuran dan buah-buahan yang dikonsumsi juga direkomendasikan bervariasi dengan berbagai warna yang beragam untuk mendapatkan vitamin dan mineral yang lengkap.  Lauk pauk yang dikonsumsi dapat berasal dari sumber lauk hewani seperti ikan, ayam, telur, dan daging, serta lauk nabati seperti tahu, tempe dan kacang-kacangan.  Pemakaian gula, garam dan lemak perlu dibatasi yaitu 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam serta 5 sendok makan minyak/lemak per hari.

            Ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis pangan juga masih menjadi tantangan dalam mengupayakan penganekaragaman konsumsi, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan gizi. Perlu adanya diversifikasi pangan dengan menyesuaikan komoditi pangan yang terdapat di daerah masing-masing. Pemerintah  mencanangkan program B2SA (Beragam, Bergizi, Sehat dan Aman) untuk menyadarkan masyarakat untuk pentingnya mengonsumsi pangan local.

Keunggulan bahan pangan lokal adalah bahan mudah didapat dan berasal dari alam. Pangan lokal umumnya lebih segar sehingga kandungan vitamin dan mineralnya tetap terjaga. Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat beragam yang dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi makanan yang tersaji di rumah tangga. Bahan pangan lokal di Indonesia meliputi umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, dan talas yang kaya akan karbohidrat kompleks sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama serta dapat menjaga kestabilan gula darah. Selain bahan pangan sumber karbohidrat, Indonesia juga memiliki bahan pangan kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kacang tanah yang merupakan sumber protein dan serat yang penting untuk memperbaiki jaringan tubuh dan menjaga pencernaan. Jenis ikan lokal yang beragam di Indonesia juga merupakan sumber protein dan omega-3 yang dibutuhkan oleh tubuh kita, seperti ikan kembung, ikan cakalang, ikan patin, dan lain-lain.
Dalam tema Hari Gizi Nasional tahun 2026 yaitu Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045, tidak hanya dapat berdiri sendiri tetapi harus diwujudkan bersama melalui lintas sektor baik dari pemerintah, instansi, serta masyarakat perlu bersama-sama menerapkan pentingnya gizi yang seimbang dan optimal agar dapat menciptakan kualitas SDM yang baik sebagai penerus bangsa.

Referensi:

  • Badan Pangan Nasional. 13 April 2025. Dorong Diversifikasi Konsumsi lewat Optimalisasi Potensi Pangan Lokal. Siaran Pers. Diakses dari https://badanpangan.go.id/blog/post/dorong-diversifikasi-konsumsi-lewat-optimalisasi-potensi-pangan-lokal
  • Darmawanti, B. 2022. Isi Piringku: Pedoman Makan Kekinian Orang Indonesia.  Kementerian Kesehatan: Indonesia.
  • Gunardi, H. 2021. Optimalisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan: Nutrisi, Kasih Sayang, Stimulasi dan Imunisasi Merupakan Langka Awal Mewujudkan Generasi Penerus yang Unggul. Jurnal Kesehatan Indonesia: Vol (9) No.1
  • Kurniawati,  N.N., Setyaningsih, A. 2025. Hubungan Kebiasaan Konsumsi Ultra-Processed-Food dan Lingkar Pinggang terhadap Tekanan Darah Dewasa 26-45 Tahun di Puskesmas Kedungmundu. Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan: Vol (6) No.3
  • Nardocci, M., Polsky, J. Y., & Moubarac, J. C. (2021). Consumption of Ultra-Processed Foods is Associated with Obesity, Diabetes and Hypertension in Canadian Adults. Canadian Journal of Public Health, 112(3), 421–429. (https://doi.org/10.17269/s41997-020-00429-9)
  • Siregar, N. et al. 2025. Sosialisasi Manfaat Realfood bagi Gaya Hidup Sehat Sejak Dini. Jurnal pendidikan Tambusai: Vol (9) No. 2
  • UNICEF. 2025. The State of Food Security and Nutrition in the world: Addressing High Food Price Inflation for Food Security and Nutrition . UNICEF
  • Zulfiani, E., Fuadah,. L.L. 2024. Peran Gizi dan Ahli Gizi dalam Upaya Pembangunan Nasional di Indonesia. Jurnal Sehat Indonesia: Vol (6) No. 1
Read More »