Oleh: Alimah Hanan, S.Gz, RD | Editor: Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan utama yang didapatkan oleh bayi yang baru lahir. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan hanya pemberian ASI saja pada bayi di bawah 6 bulan, kecuali jika ada indikasi tertentu dan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun (Meek, 2022). Di mana ibu menyusui dapat memproduksi rata-rata 750-800 ml per hari selama 6 bulan pertama kelahiran bayi.
ASI terbagi menjadi dua jenis, yaitu ASI awal (foremilk) dan ASI akhir (hindmilk).
ASI awal mengandung protein serta vitamin yang larut dalam air. Cairan ini keluar pada saat bayi mulai menyusu.
Sementara itu, ASI akhir memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi. Lemak ini berperan penting untuk membantu meningkatkan berat badan bayi (Talebi, 2024).
Pengosongan payudara harus optimal dengan proses dan perlekatan saat menyusui yang tepat agar bayi mendapatkan kedua jenis ASI tersebut.
Produksi ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain frekuensi dan durasi menyusui atau pemerahan, serta intensitasnya. Penurunan produksi ASI dapat terjadi akibat asupan nutrisi ibu yang tidak mencukupi, pengosongan payudara yang tidak optimal, stres, kecemasan, serta kondisi kesehatan yang terganggu (Talebi, 2024). Selain itu, kesehatan fisik dan mental ibu sangat berperan dalam menjaga kelancaran produksi ASI. Ketika ibu berada dalam kondisi yang sehat secara jasmani dan emosional, maka kebutuhan gizi bayi dapat terpenuhi dengan optimal sekaligus membantu menjaga daya tahan dan kesejahteraan ibu selama masa menyusui.
Asupan gizi yang memadai selama masa menyusui juga berperan krusial dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, asupan zat gizi makro maupun mikro dari makanan harus ditingkatkan selama masa menyusui, karena ibu memerlukan tambahan energi untuk memulihkan kondisi pasca persalinan serta mendukung proses metabolisme dalam produksi ASI (Wardana et al., 2018).
Konsumsi makanan yang tidak seimbang dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan ibu, yang pada akhirnya juga berdampak pada jumlah dan kualitas ASI yang diproduksi. Masa menyusui ini merupakan periode di mana ibu lebih rentan mengalami masalah gizi akibat peningkatan kebutuhan nutrisi yang sering kali tidak diimbangi dengan asupan makanan yang memadai. Kondisi ini diperburuk oleh fokus yang lebih besar terhadap pemenuhan kebutuhan bayi, sehingga kebutuhan gizi ibu sering kali terabaikan (Carretero-Krug et al., 2024).
Kebutuhan gizi Ibu menyusui bergantung pada usia, berat badan, dan tinggi badan, aktivitas fisik dan periode laktasi. Berdasarkan Permenkes No. 28 tahun 2019, penambahan energi pada ibu menyusui yaitu sekitar 330 kkal per hari pada 6 bulan pertama, dan 400 kkal pada 6 bulan kedua. Kebutuhan protein pada ibu menyusui juga meningkat sebesar 20 gram per hari pada 6 bulan pertama dan 15 gram pada 6 bulan kedua.

Selain zat gizi makro (energi, protein, lemak, dan karbohidrat), kebutuhan zat gizi mikro pada Ibu menyusui juga perlu diperhatikan. Beberapa nutrisi seperti vitamin A, D, B12, folat, yodium, serta asam lemak omega-3 (DHA dan EPA), sangat bergantung pada asupan harian ibu. Kekurangan zat gizi tersebut dapat berdampak pada kandungan gizi dalam ASI dan berisiko memengaruhi tumbuh kembang bayi, terutama pada sistem saraf dan kekebalan tubuhnya. Di sisi lain, beberapa mineral seperti kalsium, zat besi, dan zinc dalam ASI cenderung stabil, tetapi tetap bisa menyebabkan ibu mengalami defisiensi bila cadangan tubuh terus-menerus terpakai tanpa asupan yang cukup (Carretero-Krug et al., 2024). Berikut merupakan penambahan zat gizi mikro pada ibu menyusui berdasarkan Permenkes No. 28 tahun 2019.

Lalu, bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan zat gizi makro dan mikro pada Ibu menyusui? Salah satu cara sederhana untuk memastikan kecukupan nutrisi harian adalah dengan menerapkan prinsip “Isi Piringku”, yaitu panduan makan seimbang dalam satu piring setiap kali makan. Adapun gambaran porsi makan ibu menyusui menurut Kementerian Kesehatan sebagai berikut:

Berdasarkan panduan tersebut, protein hewani menjadi komponen utama yang ditekankan karena perannya dalam menjaga daya tahan tubuh dan mendukung produksi ASI. Protein hewani seperti ikan, telur, daging, dan ayam dianjurkan sebanyak 4 porsi per hari, yakni setara dengan 1 potong sedang ikan atau 1 butir telur ayam per porsi. Selain itu, protein nabati seperti tempe dan tahu juga disarankan untuk dikonsumsi 4 porsi per hari untuk melengkapi kebutuhan asam amino. Di mana setiap porsi setara dengan 1 potong sedang tempe atau tahu (sekitar 50–100 gram). Lebih lanjut, dalam rangka mendukung kebutuhan energi, maka dianjurkan mengonsumsi nasi atau makanan pokok lainnya sebanyak 6 porsi per hari, dengan ukuran 1 porsi setara ¾ gelas nasi atau sekitar 100 gram.
Kebutuhan vitamin dan mineral dipenuhi melalui konsumsi sayur dan buah, masing-masing sebanyak 4 porsi per hari. Satu porsi sayur setara 1 mangkuk sayur matang tanpa kuah (±100 gram), sedangkan satu porsi buah bisa berupa satu potong sedang pisang, papaya, atau buah lainnya (100–190 gram). Konsumsi air putih pada ibu menyusui juga perlu diperhatikan untuk mencegah dehidrasi, yang pada akhirnya juga mempengaruhi produksi ASI. Ibu menyusui dianjurkan konsumsi air putih minimal 14 gelas per hari pada 6 bulan pertama dan 12 gelas per hari pada 6 bulan berikutnya.
Panduan “Isi Piringku” ini juga menekankan pentingnya pembatasan konsumsi gula, garam, lemak, kopi, dan teh, serta anjuran untuk memperbanyak variasi makanan bergizi agar vitamin dan mineral dapat tercukupi sesuai kebutuhan. Dengan mengikuti prinsip “Isi Piringku” yang kaya akan protein hewani dan gizi seimbang, ibu menyusui dapat menjaga kesehatannya dan memastikan bayi mendapatkan asupan nutrisi terbaik dari ASI.
Keberhasilan dari proses menyusui tidak hanya dilihat dari banyaknya ASI yang diproduksi, tetapi juga dari peningkatan berat badan bayi yang sesuai dengan usianya. Jika asupan gizi ibu selama menyusui tidak tercukupi, maka bayi mungkin mengalami kesulitan dalam mencapai kenaikan berat badan yang optimal. Hal ini dapat menurunkan daya tahan tubuh bayi, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi, sekaligus menurunkan nafsu makan atau keinginannya untuk menyusu. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menghambat pertumbuhan bayi dan meningkatkan risiko terjadinya stunting (Kemenkes RI, 2011).
Referensi :
Carretero-Krug, A., Montero-Bravo, A., Morais-Moreno, C., Puga, A.M., Samaniego-Vaesken, M.D.L., Partearroyo, T. and Varela-Moreiras, G., 2024. Nutritional status of breastfeeding mothers and impact of diet and dietary supplementation: a narrative review. Nutrients, 16(2), p.301. (diunduh dari https://doi.org/10.3390/nu16020301)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Pedoman Gizi Seimbang Ibu Hamil dan Menyusui. Kemenkes RI : Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kemenkes RI: Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Poster Isi Piringku Kaya Akan Protein Hewani untuk Ibu Menyusui. Kemenkes RI: Jakarta
Meek, Joan. 2022. Policy Statement: Breastfeeding and The Use of Human Milk. American Academy of Pediatrics (diunduh dari http://publications.aap.org/pediatrics/article-pdf/150/1/e2022057988/1677532/peds_2022057988.pdf)
Talebi, Saeedeh et al. 2024. Nutritional Requirements in Pregnancy and Lactation. Clinical Nutrition ESPEN (diunduh dari https://doi.org/10.1016/j.clnesp.2024.10.155)
Wardana, R.K., Widyastuti, N. and Pramono, A., 2018. Hubungan asupan zat gizi makro dan status gizi ibu menyusui dengan kandungan zat gizi makro pada air susu ibu (ASI) di Kelurahan Bandarharjo Semarang. Journal of Nutrition College, 7(3), pp.107-113. (diubduh dari https://doi.org/10.14710/jnc.v7i3.22269 )