Oleh : Anggra Nitva Nikamba, S.Kep., Ners. | dr. Lisa Larosma Dewi, Sp.P.D. – K.G.E.H
Meskipun istilah hepatitis sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, masih banyak orang yang belum memahami apa itu hepatitis, bagaimana cara penularannya, serta bagaimana pencegahan serta penanganan. Kurangnya pemahaman ini menyebabkan hepatitis sering dianggap sebagai penyakit yang tidak berbahaya. Padahal, banyak penderita tidak merasakan gejala apa pun selama bertahun-tahun sehingga penyakit baru diketahui ketika sudah menyebabkan kerusakan hati berat, seperti sirosis atau kanker hati.
Hepatitis merupakan salah satu penyakit menular dengan beban kematian yang tinggi di seluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit ini menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian setiap tahunnya, sebagian besar akibat komplikasi hepatitis B dan hepatitis C kronik berupa sirosis hati dan kanker hati.
Secara definisi, hepatitis berarti inflamasi hati yakni kondisi dimana hati mengalami peradangan dan mengganggu kerja fungsi hati (Grant & Purres, 2026). Hati sendiri memiliki berbagai fungsi vital, antara lain memproduksi empedu untuk membantu pencernaan lemak, menetralisir zat beracun, mengaktifkan berbagai enzim, menyimpan serta mengolah zat gizi, dan berperan dalam berbagai proses metabolisme (Kemenkes RI, 2024).
Hepatitis dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatotropik, seperti virus hepatitis A, B, C, D, dan E, maupun disebabkan oleh noninfeksi, seperti perlemakan hati, konsumsi alkohol secara berlebihan, penggunaan obat-obatan tertentu yang tidak sesuai anjuran, paparan bahan kimia atau zat beracun, serta kondisi autoimun (Grant & Purres, 2026; Kemenkes RI, 2024). Penyakit ini perlu mendapat perhatian lebih jika disebabkan oleh virus karena bersifat menular.

Gejala hepatitis tidak selalu sama pada setiap orang. Perbedaan jenis virus penyebab infeksi serta kondisi tubuh penderita dapat memengaruhi munculnya gejala. Pada tahap awal, banyak penderita tidak mengalami keluhan atau hanya merasakan gejala ringan sehingga penyakit sering tidak terdeteksi. Perjalanan penyakit berikut terutama menggambarkan hepatitis virus akut, sedangkan hepatitis B dan C kronik sering kali tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun.”Secara umum, hepatitis virus berkembang melalui empat fase (Grant & Purres, 2026), yaitu :
- Fase inkubasi (replikasi virus)
Pada fase ini, virus bereplikasi di dalam tubuh, namun sebagian besar pasien belum menunjukkan gejala klinis. Meskipun demikian, pada sebagian jenis hepatitis virus, penanda infeksi maupun materi genetik virus sudah dapat terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium sebelum muncul gejala.
- Fase prodromal
Fase prodromal ditandai dengan munculnya gejala yang bersifat tidak spesifik, seperti penurunan nafsu makan (anoreksia), mual, muntah, rasa tidak enak badan (malaise), kelelahan, gatal (pruritus), urtikaria, serta nyeri sendi (artralgia). Hepatitis pada tahap ini sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai penyakit lain, seperti gastroenteritis (peradangan pada saluran pencernaan) atau infeksi virus umum,
- Fase ikterik
Pada fase ini mulai muncul tanda khas gangguan fungsi hati, seperti urin berwarna gelap dan feses yang tampak lebih pucat. Sebagian pasien mengalami ikterus yakni kondisi dimana kulit dan sklera mata menguning, nyeri pada perut kanan atas, serta pembesaran hati (hepatomegali). Pemeriksaan laboratorium biasanya menunjukkan peningkatan kadar ALT dan AST sebagai tanda terjadinya kerusakan sel hati.
- Fase pemulihan
Fase pemulihan ditandai dengan berangsur membaiknya kondisi klinis pasien dan berkurangnya gejala yang dialami. Seiring proses penyembuhan, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan penurunan kadar enzim hati hingga kembali mendekati atau mencapai nilai normal.
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mencegah penularan hepatitis, diantaranya adalah hindari berbagi barang pribadi yang berpotensi terkontaminasi darah, seperti sikat gigi, pisau cukur, alat cukur, atau jarum suntik, pastikan makanan dikonsumsi dalam keadaan bersih dan matang, dan saat bepergian ke daerah dengan sanitasi yang kurang baik, gunakan air minum yang aman dan hindari mengonsumsi makanan laut mentah atau setengah matang yang berisiko menjadi sumber penularan hepatitis A dan E, hindari konsumsi minuman beralkohol, gunakan obat-obatan secara bijak sesuai anjuran dokter atau apoteker, cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum menyiapkan makanan, vaksin hepatitis B, safe sex, skrining kelompok beresiko, penggunaan kondom pada hubungan seksual berisiko juga dapat membantu mencegah penularan hepatitis B. Selama masih berisiko menularkan virus, penderita sebaiknya tidak menyiapkan atau mengolah makanan untuk orang lain guna mencegah penyebaran infeksi (Grant & Purres, 2026). Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan AASLD merekomendasikan semua orang dewasa berusia 18 tahun ke atas untuk menjalani tes hepatitis B setidaknya satu kali dalam hidup. Ibu hamil juga disarankan menjalani pemeriksaan pada setiap kehamilan, terutama pada trimester pertama, termasuk jika sebelumnya sudah pernah divaksin hepatitis B. (Ghany et al., 2026).
Kabar baiknya, hepatitis B dapat dikendalikan dengan obat antivirus jangka panjang sehingga menurunkan risiko sirosis dan kanker hati, sedangkan hepatitis C saat ini dapat disembuhkan pada lebih dari 95% pasien dengan terapi antivirus kerja langsung (Direct-Acting Antivirals/DAA). Oleh karena itu, deteksi dini melalui skrining menjadi sangat penting.
Sebagai tenaga kesehatan, kami mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan hati. Langkah sederhana seperti menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, melakukan vaksinasi sesuai anjuran, menghindari perilaku berisiko, serta memeriksakan diri apabila memiliki faktor risiko merupakan investasi penting untuk mencegah hepatitis dan menjaga kualitas hidup di masa depan.
Sumber :
- World Hepatitis Alliance. (2025). World Hepatitis Day. https://www.worldhepatitisday.org/
- Kemenkes RI. (2024). Pentingnya Pencegahan Hepatitis di Hari Hepatitis Sedunia 2024. Ayo Sehat – Kemenkes.
- Ghany, M. G., Pan, C. Q., Lok, A. S., Feld, J. J., Lim, J. K., Wang, S. H., … & Terrault, N. A. (2026). AASLD IDSA Practice Guideline on treatment of chronic hepatitis B. Hepatology, 83(4), 974-997.
- Grant LM, Purres M. Viral Hepatitis. [Updated 2024 Mar 10]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554549/