Oleh: dr. Putu Kusumarini, MPH,Sp.PD-KGH | Dian Kusumawati, S.Kep.,Ners, | Dyah Ratnaningrum,S.Kep.,Ners
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Gagal ginjal kronik dapat berlanjut menjadi gagal ginjal terminal (end stage renal disease) dimana ginjal sudah tidak mampu lagi untuk mempertahankan kondisi tubuh, sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut berupa tindakan cuci darah atau tansplantasi ginjal.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi gagal ginjal di Indonesia sebesar 0,38 % atau 3,8 orang per 1000 penduduk, dan sekitar 60% penderita gagal ginjal tersebut harus menjalani cuci darah. Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry (IRR) 2020, penyebab gagal ginjal paling banyak adalah hipertensi (35%) yang diikuti oleh diabetes melitus (29%) dan penyebab lain (24%).

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Diabetes melitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi lebih banyak, buang air kecil lebih sering ataupun berat badan yang menurun cepat. Gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut kadar gula darahnya sangat tinggi.
Kadar gula darah yang tinggi juga memicu proses peradangan yang menyebabkan kematian sel ginjal serta mengakibatkan struktur ginjal menjadi lebih kaku dan kemampuan penyaringan darah menurun secara bertahap. Proses inilah yang mendasari terjadinya gagal ginjal pada penderita diabetes. Tidak semua penderita diabetes akan mengalami gagal ginjal, tetapi risikonya meningkat bila terdapat faktor tambahan. Durasi diabetes yang panjang merupakan salah satu faktor terpenting, karena paparan gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Kerusakan ginjal pada penyakit diabetes, yang dikenal sebagai nefropati diabetik, terjadi akibat kadar gula darah tinggi yang merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Hal ini akan mengganggu kemampuan ginjal untuk menyaring limbah dan cairan dari tubuh secara efektif. Selain itu, hipertensi yang sering menyertai diabetes juga memperburuk kerusakan ginjal. Faktor lain yang turut berkontribusi antara lain kadar gula darah yang tidak stabil, obesitas, gangguan profil lemak darah, kebiasaan merokok, usia lanjut, serta faktor genetik.
Pada tahap awal, kerap kali pasien tidak menunjukkan adanya gejala. Namun, seiring dengan kadar gula darah tetap tidak terkendali dengan baik, maka dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal yang meliputi:
- Pembengkakan di kaki, atau tangan akibat penumpukan cairan
- Peningkatan tekanan darah yang sulit dikendalikan
- Meningkatnya frekuensi buang air kecil, terlebih pada saat malam hari
- Rasa lelah yang berlebihan dan kesulitan berkonsentrasi
- Mual dan muntah akibat penumpukan limbah dalam tubuh
Mengelola diabetes dengan baik dapat mengurangi risiko kerusakan ginjal. Beberapa langkah utama meliputi:
- Mengontrol Gula Darah: Memastikan kadar gula darah berada dalam rentang normal melalui diet sehat, olahraga, dan obat oral anti diabetes atau penggunaan insulin jika diperlukan.
- Mengendalikan Tekanan Darah: Penggunaan obat anti hipertensi seperti Angiotenin-Converting Enzyme (ACE) inhibitor atau Angiotenin II Receptor Blockers (ARB) terbukti efektif dalam melindungi ginjal.
- Pemeriksaan Rutin: Tes urin untuk mendeteksi albuminuria (protein dalam urin) dapat membantu mengidentifikasi kerusakan ginjal pada tahap awal.
- Gaya Hidup Sehat: Pola diet seimbang dengan membatasi asupan GGL (gula, garam,lemak), serta menghindari merokok, sangat disarankan.
- Jika tidak dikelola, nefropati diabetik dapat berkembang menjadi ESRD dalam beberapa tahun, yang membutuhkan penanganan dialisis atau transplantasi untuk mempertahankan fungsi ginjal.
- Pemeriksaan fungsi ginjal secara rutin, meliputi pemeriksaan urine dan darah, dianjurkan dilakukan secara berkala untuk mendeteksi perubahan sejak dini. Deteksi dini memungkinkan intervensi dilakukan sebelum kerusakan menjadi berat.
- Perubahan gaya hidup merupakan bagian penting dari pencegahan. Menjaga berat badan ideal, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengatur pola makan yang seimbang, membatasi asupan garam, serta menghentikan kebiasaan merokok terbukti mendukung perlindungan fungsi ginjal.
Daftar Referensi:
- Diabetes Dapat Berujung Pada Cuci Darah (Dialisis) [Internet] (cited 2026 April 22) Available from: https://ikcc.or.id/2025/02/21/diabetes-dapat-berujung-pada-cuci-darah-dialisis/
- Mukhyarjon, Wahid I, Manaf A. Profil dan beberapa faktor yang berhubungan dengan hemostasis pasien diabetes melitus tipe 2 tak terkontrol. J Kedokteran dan Kesehatan. 2020;16(2):128–34.
- Salsabila Naim dan Mahmudah, Survival Time of Diabetes Mellitus Patients With Hemodialysis: A Study Using Survival Analysis. Acta Medica Iranica, Vol 60, No 2 (2022). https://doi.org/10.18502/acta.v60i2.8823
- Budianto Y. Hubungan diabetes mellitus dengan kejadian gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa RSUD H. Ibnu sutowo baturaja kabupaten ogan komering. Cendekia Medika. 2017;2(2)
- KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/1634/2023 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA PENYAKIT GINJAL KRONIK. Diakses dari: https://kemkes.go.id/id/pnpk-2023—tata-laksana-penyakit-ginjal-kronik
- Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes miletus tipe 2 di indonesia. Perkumpulan endokrin Indonesia 2024. Diakses dari: https://pbperkeni.or.id/wp-content/uploads/2025/08/DMT2-2024-Protected.pdf
- Pamecut, I. K. N. S. K., Setiawan, H. K., Suryantoro, S. D., Putri, E. A. C. (2025). The Role of Diabetes Mellitus in the Development of Chronic Kidney Disease: A Review. International Journal of Scientific Advances (IJSCIA), Volume 6| Issue 6