Oleh: dr. Pudya Lestari Arshanti, M.Sc., Sp. PD.
APA ITU PENYAKIT MALARIA?
Malaria merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat luas dan dianggap ancaman terhadap status kesehatan terutama pada masyarakat di daerah terpencil Indonesia. Malaria termasuk penyakit prioritas karena dianggap emerging disease akibat tingginya mobilitas penduduk sehingga berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat. Menyambut HARI MALARIA SEDUNIA: 25 April 2026 (“Driven to End Malaria: Now We can. Now We must”) – Anggota KSM Penyakit Dalam – RSA UGM Yogyakarta
Siapa saja yang mempunyai risiko terkena malaria?
- Orang yang pergi ke daerah endemis malaria, terutama orang dengan mobilitas tinggi keluar masuk daerah endemis dan berpindah-pindah seperti wisatawan, pelajar/ mahasiswa, pekerja migran, dan TNI/ POLRI.
- Orang yang pernah mendapat tranfusi darah
- Riwayat tinggal di daerah fokus atau endemis tinggi malaria.
Daerah endemis malaria di Indonesia seperti terdapat dalam gambar berikut ini

Gambar daerah endemis malaria
MENGAPA PENYAKIT MALARIA BERBAHAYA?
- Jika malaria tidak ditangani segera dapat menjadi malaria berat yang menyebabkan kematian.
- Malaria dapat menular ke orang lain melalui gigitan nyamuk
- Malaria dapat menyebabkan anemia yang menurunkan kualitas sumber daya manusia.
- 4. Malaria pada wanita hamil jika tidak diobati dapat menyebabkan keguguran, lahir kurang bulan (prematur) dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta lahir mati.
BAGAI MANA CARA MENDIAGNOSIS PENYAKIT MALARIA?
Diagnosis malaria ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium.
- Anamnesis
- Keluhan: demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal.
- Riwayat demam dalam 1-2 minggu sebelumnya
- Riwayat sakit malaria dan riwayat minum obat malaria sebelumnya.
- Riwayat mendapat transfusi darah
- Riwayat berkunjung ke daerah fokus/endemis tinggi malaria missal wilayah Papua, Sumba.
- Riwayat tinggal di daerah fokus atau endemis tinggi malaria.
- Pemeriksaan fisik
- Suhu tubuh ketiak/ aksiler > 37,5 C
- Konjungtiva atau telapak tangan pucat
- Sklera ikterik (kuning)
- Pembesaran Limpa (splenomegali)
- Pembesaran hati (hepatomegali)
- Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan dengan mikroskop: sediaan darah (SD) tebal dan tipis untuk menentukan:
- a) Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).
- b) Spesies dan stadium plasmodium.
- c) Kepadatan parasit/jumlah parasit. Pemeriksaan dengan mikroskop merupakan gold standard
- Pemeriksaan dengan uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)
GEJALA MALARIA
Gejala utama demam, bervariasi tergantung jenis plasmodium yang menginfeksi, mulai ringan hingga berat dan membahayakan jiwa. Gejala klasik disebut “trias malaria” : demam akut (paroksismal), menggigil dan berkeringat. Orang yang tinggal di daerah endemis (imun) tidak selalu ditemukan gejala klasik atau gejala tidak spesifik.
Gejala lain: nyeri kepala, mual, muntah, diare, pegal-pegal, dan nyeri otot.
Diagnosis banding: tifus, demam berdarah, leptospirosis, hepatitis akut, chikungunya, infeksi saluran nafas, radang otak atau bahkan stroke karena ada hasil laboratorium: trombositopenia, mata kuning (ikterik), penurunan kesadaran.
Periodisitas gejala demam tergantung jenis plasmodium yang menginfeksi:
- Malaria falsiparum (malaria tropikana): disebabkan infeksi Plasmodium falciparum.
- Demam timbul intermiten dan dapat kontinyu, paling sering menjadi malaria berat yang menyebabkan kematian.
- Malaria vivaks (malaria tersiana), disebabkan infeksi Plasmodium vivax:
- Demam berulang dengan interval bebas demam 2 hari.
- Malaria ovale, disebabkan infeksi Plasmodium ovale.
- Demam bersifat ringan. Pola demam seperti pada malaria vivaks.
- Malaria Malariae (malaria kuartana), disebabkan oleh infeksi Plasmodium malariae:
- Demam berulang dengan interval bebas demam 3 hari.
- Malaria Knowlesi, disebabkan oleh infeksi Plasmodium knowlesi:
- Demam menyerupai malaria falsiparum.
MALARIA BERAT
Malaria berat: Plasmodium falciparum atau Plasmodium vivax atau Plasmodium knowlesi stadium aseksual dengan minimal satu dari manifestasi klinis sebagai berikut (kriteria WHO):
- Perubahan kesadaran (GCS 30 kali/menit)
- Kelemahan otot (tak dapat duduk/berjalan)
- Kejang berulang-lebih dari dua episode dalam 24 jam
- Asidosis metabolik (bikarbonat plasma 30 kali/menit)
- Edema paru (didapat dari gambaran radiologi atau saturasi oksigen 30 kali/menit)
- Gagal sirkulasi atau syok: pengisian kapiler > 3 detik, tekanan sistolik 3mg/dL dan kepadatan parasit >100.000/uL pada malaria falciparum, pada malaria knowlesi kepadatan parasit >20.000/uL)
- Jaundice (bilirubin>3mg/dL dan kepadatan parasit >100.000/uL pada malaria falciparum, pada malaria knowlesi kepadatan parasit >20.000/uL)
- Perdarahan spontan abnormal
- Hipoglikemi (gula darah < 12 tahun: Hb 2 % eritrosit atau 100.000 parasit /μL di daerah endemis rendah atau > 5% eritrosit atau > 250.000 parasit /μl di daerah endemis tinggi)
- Hiperlaktemia (asam laktat >5 mmol/L)
- Gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >3 mg%) atau ureum darah >20mmol/L.
PENGOBATAN MALARIA BERAT
Semua penderita malaria berat harus ditangani di Rumah Sakit (RS) atau puskesmas perawatan. Prognosis tergantung kecepatan dan ketepatan diagnosis serta pengobatan. Malaria berat diobati dengan injeksi Artesunat dilanjutkan dengan DHP oral.
- Pengobatan malaria berat di Puskesmas/Klinik non – Perawatan
- Harus langsung dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap dan diberikan pengobatan pra rujukan
- Pengobatan malaria berat di Puskesmas/Klinik Perawatan atau Rumah Sakit:
- Tata laksana utama: Artesunat intravena. Bila penderita sudah dapat minum obat, pengobatan dilanjutkan regimen DHP atau ACT lainnya (3 hari) + primakuin (sesuai dengan jenis plasmodiumnya). Kina drip (tidak tersedia di Indonesia): bukan merupakan obat pilihan utama malaria berat
PENCEGAHAN PENYAKIT MALARIA
Prinsip pencegahan malaria:
(A) Awareness/kewaspadaan terhadap risiko malaria
(B) Bites prevent/ mencegah gigitan nyamuk: kelambu antinyamuk, repelen, kawat kasa nyamuk dan lain-lain.
(C) Chemoprophylaxis
(D) Diagnosis dan treatment
Obat kemoprofilaksis diutamakan diberikan pada individu dengan risiko tinggi terkena malaria karena pekerjaan dan perjalanan ke daerah endemis tinggi.
- Doksisiklin.
- Meflokuin (khusus hanya pada personel TNI dan POLRI)
G. PENCEGAHAN MALARIA PADA IBU HAMIL
- Penapisan (skrining) malaria dan pemberian kelambu anti nyamuk terhadap semua ibu hamil dilaksanakan pada saat kunjungan pertama pelayanan masa kehamilan di kabupaten/ kota endemis tinggi malaria.
- Bagi yang positif malaria segera diberikan pengobatan sesuai pedoman penatalaksanaan kasus malaria.
Referensi:
- Buku Saku TATA LAKSANA MALARIA 2026. Direktorat Penyakit Menular, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2026