Oleh: dr. Fita Wirastuti, M. Sc., Sp. A.
Asma merupakan salah satu penyakit kronis paling sering pada anak. Banyak masyarakat masih menganggap asma hanya sebagai “sesak napas biasa” yang muncul sesekali.
Apa yang dimaksud dengan ASMA?

Asma adalah kondisi peradangan kronis pada saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran napas dan produksi lendir berlebih, sehingga anak akan mengalami kesulitan bernapas. Hal ini terjadi pada umumnya akibat hipersensitivitas terhadap pencetus (debu, infeksi, udara dingin, kutu rumah tangga dll).
Gejala yang muncul pada anak utamanya berupa batuk berulang (terutama malam/dini hari), mengi (bunyi “ngik”), sesak napas dan dada terasa berat, pada anak yang lebih muda sering disertai keluhan nyeri perut.
Rentang keparahan penyakit ini cukup lebar variasinya, mulai dari yang hanya muncul sesekali, sampai yang hampir sepanjang hari mengalami sesak napas. Prinsipnya inti masalah asma adalah peradangan kronis pada saluran napas, sehingga terapi asma tidak cukup hanya menghilangkan sesak, tetapi harus mengatasi inflamasi yang terkadang memerlukan pengendalian jangka panjang.
Dampak Asma yang Tidak Terkontrol pada Anak
Anak akan mengalami penurunan kualitas hidup jika asma tidak terkontrol karena saluran napas anak akan menjadi lebih sensitif, mengalami remodelling (perubahan struktur paru berupa penyempitan yang menetap) dan akhirnya fungsi paru akan menurun dan anak sering sesak napas. Hal tersebut juga akan menyebabkan anak sering ke IGD, aktivitas bermain terganggu, sering absen sekolah sehingga prestasi sekolah akan terganggu dan kesehatan mental menurun. Selain itu hal tersebut juga akan meningkatkan beban keluarga terutama waktu dan biaya, karena orangtua harus lebih sering membawa anak untuk berobat.
Asma yang dapat dikontrol dengan baik membuat anak jarang kambuh, nyaman beraktivitas, jarang masuk rumah sakit, dapat bermain bebas, berolahraga normal dan tidur lebih nyenyak sehingga orang tua lebih tenang. Tujuan utama terapi asma adalah hidup normal tanpa hambatan. Penelitian menunjukkan bahwa pengobatan yang tepat dapat mengurangi kekambuhan, mengurangi rawat inap dan mencegah kematian akibat asma.
Pengobatan Asma
Terapi utama pengendalian asma adalah kortikosteroid inhaler (ICS) karena dapat mengurangi peradangan saluran napas, mengurangi frekuensi serangan, meningkatkan fungsi paru dan mengurangi kebutuhan obat pelega (reliever).
Penelitian menunjukkan pada kasus asma:
- ICS meningkatkan hari bebas gejala dan menurunkan penggunaan obat darurat pada anak
- ICS menurunkan risiko kekambuhan dan memperbaiki kontrol asma dibanding terapi lain
- Penggunaan rutin ICS memperbaiki fungsi paru jangka panjang
Program penggunaan ICS secara rutin pada anak terbukti meningkatkan kualitas hidup keluarga, mengurangi absen sekolah dan meningkatkan hari bebas gejala. Ini menunjukkan bahwa inhaler antiinflamasi (ICS) bukan hanya obat, tetapi investasi kualitas hidup anak.
Prinsip Pengendalian Asma pada Anak
- Kenali dan hindari pencetus
- Gunakan obat pengendali (ICS) secara rutin
- Gunakan inhaler dengan teknik yang benar
- Pantau gejala secara berkala
- Kontrol rutin ke dokter
Mitos vs Fakta tentang Asma pada Anak
Beberapa mitos yang sering terjadi di masyarakat:
❌ “Obat inhaler (ICS) hanya digunakan saat sesak”
❌ “Kalau sudah tidak sesak, obat dihentikan”
❌ “Inhaler berbahaya atau bikin ketergantungan”
Fakta ilmiah:
- Inhaler terutama yang berisi steroid adalah terapi pencegahan/pengendali (controller), sehingga digunakan bukan hanya saat serangan
- Aman bila digunakan sesuai dosis anjuran dokter
- Menghentikan obat tanpa kontrol justru akan meningkatkan risiko serangan berat
Pesan Kunci :
- Asma adalah penyakit pernapasan kronis bukan sekadar sesak napas biasa.
- Masalah utama asma adalah peradangan, sehingga harus diobati dengan antiinflamasi agar terkendali, bukan hanya dengan obat pelega sesak.
- Penggunaan ICS secara teratur adalah kunci agar anak bisa hidup normal dan aktif.
- Dengan pengobatan yang tepat, anak dengan asma bisa tumbuh sehat, berprestasi, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Kesimpulan
Asma pada anak merupakan penyakit kronis berbasis inflamasi yang membutuhkan terapi jangka panjang. Kortikosteroid inhaler (ICS) merupakan pilar utama pengobatan karena terbukti secara ilmiah mengontrol gejala, mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup anak.

Referensi:
- Halterman JS, Szilagyi PG, Yoos HL, Conn KM, Kaczorowski JM, Holzhauer RJ, et.al, 2004, Benefits of a school-based asthma treatment program in the absence of secondhand smoke exposure: results of a randomized clinical trial. Arch Pediatr Adolesc Med. 158(5):460-7
- http://doi.org/10.1001/archpedi.158.5.460
- Arets HGM, Kamps AWA, Brackel HJL, Mulder PGH, Vermue NA and Van der Ent CK. 2002. Children with mild asthma: do they benefit from inhaled corticosteroids? European Respiratory Journal. 20(6):1470-5. http://doi.org/10.1183/09031936.02.00292702
- Castro-Rodriguez JA and Rodrigo GJ. 2009. The role of inhaled corticosteroids and montelukast in children with mild-moderate asthma:results of a systematic review with meta-analysis. Archives of Disease in Childhood. 95(5). https://doi.org/10.1136/adc.2009.169177
- Tan DJ, Bui DS, Dai X, Lodge CJ, Lowe AJ, Thomas PS, et.al, 2021. Does the use of inhaled corticosteroids in asthma benefit lung function in the long-term? A systematic review and meta-analysis. Eur Respir Rev 30(159):200185. http://doi.org/10.1183/16000617.0185-2020
- Dean BB, Calimlim BC, Sacco P, Aguilar D, Maykut R and Tinkelman D. 2010. Uncontrolled asthma: assessing quality of life and productivity of children and their caregivers using a cross-sectional internet-based survey. Health and Quality of Life Outcomes. 8(96). http://doi.org/10.1186/1477-7525-8-96