Oleh: Donytra Arby Wardhana, Ph.D. M.Med.Sc. Sp.PK | dr. Titien Budhiaty, M.Sc. Sp.PK Subsp. BDKT
Pernahkah Anda membayangkan bahwa satu kantong darah yang didonorkan dalam waktu kurang dari 15 menit dapat membantu menyelamatkan hingga tiga nyawa? Hal ini dimungkinkan karena darah donor tidak langsung diberikan utuh kepada pasien, melainkan diproses menjadi sel darah merah, trombosit, dan plasma. Masing-masing memiliki fungsi tersendiri dan dapat dimanfaatkan oleh pasien yang berbeda sesuai kebutuhannya. Di saat yang sama, donor darah juga dapat dimanfaatkan oleh pendonor untuk memantau kondisi kesehatannya sendiri. Inilah mengapa donor darah bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang menjaga kesehatan bersama.
Setiap tanggal 14 Juni, dunia memperingati Hari Donor Darah Sedunia sebagai bentuk penghargaan kepada para pendonor darah sukarela yang telah membantu jutaan pasien memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan darah tidak pernah berhenti, sementara ketersediaannya sangat bergantung pada kepedulian masyarakat.
Mengapa Indonesia Masih Membutuhkan Banyak Pendonor Darah?
Darah adalah komponen yang tidak dapat diproduksi di pabrik maupun dibuat secara sintetis. Hingga saat ini, satu-satunya sumber darah untuk transfusi adalah dari manusia yang bersedia mendonorkan darahnya.
Di Indonesia, kebutuhan darah sangat besar, diperkirakan mencapai lebih dari 5 juta kantong darah pertahun. Rumah sakit membutuhkan pasokan darah untuk berbagai kondisi, baik yang bersifat rutin maupun darurat.
Pasien yang Membutuhkan Darah Secara Rutin
Beberapa pasien memerlukan transfusi darah secara berkala sepanjang hidupnya, antara lain:
- Penderita talasemia yang membutuhkan transfusi setiap beberapa minggu.
- Pasien anemia berat akibat kelainan darah tertentu.
- Pasien gagal ginjal yang mengalami gangguan pembentukan sel darah merah.
- Pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
- Pasien dengan gangguan sumsum tulang atau penyakit darah lainnya.
Bagi kelompok pasien ini, ketersediaan darah yang stabil sangat menentukan kualitas hidup mereka.
Pasien yang Membutuhkan Darah Secara Insidental
Selain kebutuhan rutin, darah juga dibutuhkan secara mendadak pada kondisi tertentu, seperti:
- Kecelakaan lalu lintas atau trauma berat.
- Perdarahan saat persalinan.
- Operasi besar.
- Perdarahan saluran cerna.
- Bencana alam atau kejadian luar biasa yang menyebabkan banyak korban.
Pada kondisi-kondisi tersebut, darah sering kali dibutuhkan dalam hitungan menit hingga jam. Keterlambatan mendapatkan darah dapat meningkatkan risiko komplikasi bahkan kematian.

Donor Darah: Investasi Sosial yang Nyata
Saat mendonorkan darah, seseorang mungkin tidak pernah mengetahui siapa yang menerima darah tersebut. Namun, satu kantong darah dapat membantu bayi yang lahir prematur, ibu yang mengalami perdarahan saat melahirkan, korban kecelakaan, hingga pasien kanker yang sedang berjuang menjalani pengobatan.
Inilah bentuk gotong royong modern yang nyata. Ketika suatu saat kita atau keluarga membutuhkan transfusi darah, sistem donor sukarela yang kuat akan memastikan darah tersedia saat diperlukan
Ternyata Donor Darah Juga Bermanfaat untuk Diri Sendiri
Banyak orang mendonorkan darah karena alasan kemanusiaan. Namun, ada manfaat lain yang sering kali tidak disadari.
Sebelum mendonor, calon pendonor akan menjalani pemeriksaan kesehatan sederhana, seperti:
- Tekanan darah.
- Berat badan.
- Kadar hemoglobin (Hb).
- Kondisi kesehatan umum.
Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi dini beberapa masalah kesehatan yang mungkin belum disadari.
Selain itu, darah yang didonorkan akan menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium untuk memastikan keamanan bagi penerima transfusi.
Sekaligus Mendapatkan Skrining Penyakit Infeksi
Setiap darah donor harus melalui pemeriksaan terhadap beberapa penyakit infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi darah, antara lain:
- Hepatitis B.
- Hepatitis C.
- HIV.
- Sifilis.
Pemeriksaan ini merupakan bagian penting dari upaya menjaga keamanan darah bagi pasien yang akan menerima transfusi.
Bagi pendonor, proses ini juga menjadi kesempatan untuk mengetahui status kesehatan terkait infeksi tersebut. Apabila ditemukan hasil yang memerlukan perhatian lebih lanjut, pendonor akan mendapatkan informasi dan dapat segera melakukan pemeriksaan lanjutan serta memperoleh penanganan yang sesuai
Mengapa Skrining Infeksi Penting?
Banyak penyakit infeksi dapat berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun. Seseorang dapat merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, padahal infeksi sudah terjadi.
Karena itu, skrining infeksi memiliki manfaat luas, antara lain:
- Menjaga kesehatan pribadi
- Mendukung kesehatan keluarga (mencegah penularan antar anggota keluarga)
- Persiapan pernikahan (membantu pasangan merencanakan kehidupan rumah tangga yang sehat dan bertanggung jawab)
- Mendukung kesehatan dan produktivitas karyawan di lingkungan kerja
- Menunjang Seleksi dan Pemantauan Kesehatan Pegawai
Mari Rayakan Hari Donor Darah Sedunia dengan Aksi Nyata
Hari Donor Darah Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan. Ini adalah pengingat bahwa di berbagai rumah sakit, selalu ada pasien yang menunggu darah untuk melanjutkan hidupnya.
Dengan mendonorkan darah, kita tidak hanya membantu orang lain memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memantau kesehatan diri sendiri melalui pemeriksaan dan skrining yang dilakukan.
Setetes darah yang kita donorkan mungkin hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi manfaatnya dapat bertahan seumur hidup bagi seseorang.
Referensi:
- World Health Organization. World Blood Donor Day. Geneva: WHO; 2026. Tersedia pada: https://www.who.int/campaigns/world-blood-donor-day . Diakses 13 Juni 2026.
- World Health Organization. Blood Safety and Availability. Geneva: WHO; 2025. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/blood-safety-and-availability . Diakses 13 Juni 2026.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2024. Tersedia pada: https://satudata.kemkes.go.id . Diakses 13 Juni 2026.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 91 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2015.
- Practical Transfusion Medicine. 5th ed. Hoboken, NJ: Wiley-Blackwell; 2017.