• PORTAL AKADEMIK
  • IT CENTER
  • RESEARCH
  • PUSAT LAYANAN INFORMASI
  • GAWAT DARURAT
  • KEBIJAKAN PRIVASI
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Sejarah Rumah Sakit Akademik UGM
    • Visi, Misi, Tugas, Motto, dan Kebijakan Mutu
    • Logo Rumah Sakit Akademik UGM
    • Pendidikan Pelatihan
    • Clinical Research Unit
    • Pengabdian Masyarakat
    • Manajemen RSA UGM
    • Pasar Krempyeng
  • Layanan
    • IGD
    • Unit Tranfusi Darah
    • Klinik Eksekutif dan Medical Check Up
      • Klinik Eksekutif
      • Paket Medical Check Up
    • Klinik
      • Klinik Anak
      • Klinik Bedah
      • Klinik Srikandi 1
      • Klinik Subspesialis Bedah
      • Klinik Gadjah Mada Ortopedi Center
      • Klinik Dermatologi, Venereologi, dan Estetika
      • Klinik Gigi dan Mulut
      • Klinik Jantung dan Pembuluh Darah
      • Klinik Kesehatan Jiwa
      • Klinik Mata
      • Klinik Obstetri dan Ginekologi
      • Klinik Paru dan Pernapasan
      • Klinik Penyakit Dalam
      • Klinik Fisik dan Rehabilitasi Medik
      • Klinik Gizi
      • Klinik Saraf
      • Klinik THT-KL
    • Hemodialisa
    • Radiologi
    • Psikologi Anak
    • Antarejo
    • Jatayu Home Care
    • Rawat Inap
    • Health Tourism & Wellness
    • Cerebral Palsy Center
  • Informasi
    • Jadwal Dokter RSA UGM
    • Karir
    • Artikel
      • Artikel Kesehatan
      • Berita
    • Kerja Sama Asuransi
    • Alur Pasien
    • INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT
    • DATA INDIKATOR MUTU
    • Media Monitoring
    • Booklet Edukasi
    • Homestay UGM
  • Kontak Kami
    • Zona Integritas
    • SP4N Lapor
    • E-Komplain
    • Hubungi Kami
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
  • Home
  • Artikel

Epilepsi

  • Artikel
  • 17 Desember 2014, 11.22
  • Oleh : admin

Masyarakat masih memberikan stigma negatif kepada penyandang epilepsi atau yang lebih sering disebut ayan atau sawan. Ada yang beranggapan bahwa epilepsi adalah penyakit kutukan, kemasukan roh jahat, tidak bisa mengikuti pelajaran dan menyusahkan jika tiba-tiba kambuh. Padahal sebenarnya penyandang epilepsi dapat hidup seperti biasa, menjadi sarjana, bekerja dan berkeluarga.

Sapa saja yang bisa terkena epilepsi? Epilepsi merupakan salah satu penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja tanpa batasan usia, ras, gender, sosial dan ekonomi. Prevalensi epilepsi di negara berkembang lebih tinggi dibandingka negara maju. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh kelompok studi epilepsi PEROSSI yang melibatkan 18 RS se-Indonesia, didapatkan kasus baru sebesar 487 dari 2228 subyek penelitian rerata usia kasus baru adalah 25 tahun.

Pengertian epilepsi adalah kelainan otak yang ditandai dengan kecenderungan untuk menimbulkan bangkitan epileptik yang terus menerus, dengan konsekuensi neurobiologis, kognitif, psikologis dan sosial. Bangkitan epileptik adalah terjadinya tanda/gejala yang bersifat sesaat akibat aktivitas neuronal yang abnormal dan berlebihan di otak. Dikatakan seseorang menderita epilepsi jika minimal terdapat 2 bangkitan tanpa provokasi/bangkitan refleks. Yang dimaksud bangkitan refleks adalah bangkitan yang muncul akibat induksi oleh faktor pencetus spesifik seperti stimulasi visual, auditorik, somatosensitif dan somatomotor.

Jika dilihat dari definisi di atas, ada suatu kelainan otak yang menyebabkan epilepsi. Pada umumnya penyebab kelainan otak sehingga menyebabkan epilepsi dibagi menjadi 3, yaitu: 1) Idiopatik, dimana tiidak terdapat lesi struktural di otak atau defisit neurologis. Diperkirakan mempunyai predisposisi genetik dan umumnya berhubungan dengan usia; 2) Kriptogenik, penyebab pasti belum diketahui; 3)Simtomatis, Ada kelainan struktural pada otak, misalnya cedera kepala, infeksi sistem saraf pusat, kelainan kongenital, proses desak ruang, stroke.

Gejala epilepsi bisa bermacam-macam, tidak harus kejet-kejet seluruh tubuh dengan mulut berbusa akan tetapi bisa juga gerakan sebagian anggota tubuh maupun bengong saja. Menurut ILAE (International League Against Epilepsi) epilepsi dibagi menjadi 3 tipe, yaitu bangkitan parsial/fokal, bangkitan umum dan bangkitan tak tergolongkan. Dengan berbagai tipe bangkitan, kita harus cermat jika keluarga/teman kita menunjukkan gerakan yang muncul sesaat dan berulang tanpa provokasi.

Jika kita curiga ada keluarga/teman menderita eplepsi sebaiknya segera segera dibawa ke dokter.Dokter akan menggali riwayat penyakit sekarang, dahulu dan keluarga serta melakukan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan akan dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu rekam otak (Elektroensefalografi) dan/atau CT Scan kepala. Penegakkan diagnosis yang tepat akan menentukan pemilihan jenis terapi sehingga bangkitan bisa dikontrol sehingga penyandang epilepsi dapat hidup normal dan tercapainya kualitas hidup optimal sesuai dengan perjalanan penyakit dan disabilitas fisik maupun psikis yang dimilikinya.

Masalah epilepsi tidak hanya masalah medis saja, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap psikologis penderita dan masalah sosial di masyarakat, sehingga diharapkan peranan masyarakat untuk penanganan epilepsi yang optimal. Masyarakat yang peduli terhadap epilepsi membentuk Yayasan Epilepsi Indonesia (YEI) yang berusaha menghilangkan stigma negatif dengan cara memberikan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat luas tentang epilepsi (www.ina-epsy.org).

dr. Farida Niken Astari N.H., MSc., Sp.S.
Dokter Spesialis Syaraf RS Akademik UGM

Tags: Spesialis Syaraf

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Related Posts

Mengenali Berbagai Gangguan Gerak Dan Bagaimana Menanganinya

Artikel Jumat, 13 Desember 2024

Oleh: dr. Andre Stefanus Panggabean, Sp.N What (Apa itu Gangguan Gerak?) Gangguan gerak adalah  kondisi medis yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengontrol gerakan tubuhnya.

Sepsis: Ketika Infeksi Yang Tampak Sederhana Menjadi Kondisi Yang Mengancam Nyawa

ArtikelPenyakit Dalam Rabu, 16 September 2026

Oleh: Undatun Ulfah, S.Kep.,Ners, dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp. P.D. Bayangkan seseorang mengalami luka kecil karena teriris pisau dapur atau seseorang mengalami infeksi saluran kemih yang awalnya hanya terasa seperti anyang-anyangan.

RSA UGM Raih Seva Paramahita Award untuk Pelayanan JKN

Berita Selasa, 15 September 2026

Sleman, 15 September 2026 – Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) kembali meraih penghargaan atas komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat. RSA UGM berhasil memperoleh Seva Paramahita Award untuk Fasilitas […].

Dokter Spesialis Neurologi RSA UGM Selesaikan Clinical Training Program Tingkat Internasional

Berita Jumat, 11 September 2026

Yogyakarta, 11 September 2026 – Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) terus berkomitmen mengembangkan kualitas dan keterampilan tenaga medis melalui clinical training program di rumah sakit berskala internasional.

Pencarian

Artikel Kesehatan

  • Anak
  • Jantung
  • Diabetes
  • Kesehatan Jiwa
  • Kulit dan Kelamin
  • Lansia
  • Nutrisi

Informasi Terbaru

  • Sepsis: Ketika Infeksi Yang Tampak Sederhana Menjadi Kondisi Yang Mengancam Nyawa
  • RSA UGM Raih Seva Paramahita Award untuk Pelayanan JKN
  • Dokter Spesialis Neurologi RSA UGM Selesaikan Clinical Training Program Tingkat Internasional
  • Pengumuman Hasil Seleksi Akhir Dokter Gigi Umum – Klinik Rumah Sehat UGM
Universitas Gadjah Mada

Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada

Jl. Kabupaten (Lingkar Utara), Kronggahan, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55291

rsa@ugm.ac.id

0811 2846 042 (IGD, WhatsApp Chat Only)
0811 2548 118 (IGD, Telepon)
0811 2856 210 (Pusat Layanan Informasi, WhatsApp Chat Only)

Artikel Kesehatan

  • Anak
  • Jantung
  • Diabetes
  • Kesehatan Jiwa
  • Kulit dan Kelamin
  • Lansia
  • Nutrisi

Layanan

  • Health Tourism and Wellness
  • Jatayu Homecare and Telemedicine
  • Unit Tranfusi Darah
  • Antarejo
  • Medical Check-Up
  • Klinik Eksekutif
  • Cathlab
  • CPET
  • Pendidikan dan Pelatihan
ARSPTN logo

© Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada