• PORTAL AKADEMIK
  • IT CENTER
  • RESEARCH
  • PUSAT LAYANAN INFORMASI
  • GAWAT DARURAT
  • KEBIJAKAN PRIVASI
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Sejarah Rumah Sakit Akademik UGM
    • Visi, Misi, Tugas, Motto, dan Kebijakan Mutu
    • Logo Rumah Sakit Akademik UGM
    • Clinical Research Unit
    • Pengabdian Masyarakat
    • Manajemen RSA UGM
    • Pasar Krempyeng
  • Diklat
  • Layanan
    • IGD
    • Unit Tranfusi Darah
    • Klinik Eksekutif dan Medical Check Up
      • Klinik Eksekutif
      • Paket Medical Check Up
    • Klinik
      • Klinik Anak
      • Klinik Bedah
      • Klinik Srikandi 1
      • Klinik Subspesialis Bedah
      • Klinik Gadjah Mada Ortopedi Center
      • Klinik Dermatologi, Venereologi, dan Estetika
      • Klinik Gigi dan Mulut
      • Klinik Jantung dan Pembuluh Darah
      • Klinik Kesehatan Jiwa
      • Klinik Mata
      • Klinik Obstetri dan Ginekologi
      • Klinik Paru dan Pernapasan
      • Klinik Penyakit Dalam
      • Klinik Fisik dan Rehabilitasi Medik
      • Klinik Gizi
      • Klinik Saraf
      • Klinik THT-KL
    • Hemodialisa
    • Radiologi
    • Psikologi Anak
    • Antarejo
    • Jatayu Home Care
    • Rawat Inap
    • Health Tourism & Wellness
    • Cerebral Palsy Center
  • Informasi
    • Jadwal Dokter RSA UGM
    • Karir
    • Artikel
      • Artikel Kesehatan
      • Berita
    • Kerja Sama Asuransi
    • Alur Pasien
    • INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT
    • DATA INDIKATOR MUTU
    • Media Monitoring
    • Booklet Edukasi
    • Homestay UGM
  • Kontak Kami
    • Zona Integritas
    • SP4N Lapor
    • E-Komplain
    • Hubungi Kami
  • Home
  • Artikel

Gaya Hidup Skoliosis

  • Artikel
  • 28 June 2024, 09.33
  • By : humas.rsugm

Oleh: dr. Fithri Islamiyah Sapuraning Rahayu | dr. Asa Ibrahim Asikin, Sp.OT

Tahukah anda bahwa data dari Scoliosis Research Society (SRS) menyebutkan bahwa 2-3% populasi dunia menderita skoliosis?

Artinya dari setiap 100 orang yang kita kenal, setidaknya 2-3 orang memiliki lengkungan abnormal pada tulang belakang mereka. Di Indonesia dengan populasi sekitar 270 juta orang, diperkirakan 5,4 hingga 8,1 juta orang mungkin menderita skoliosis. Kondisi ini lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan perbandingan sekitar 8 : 1 untuk kasus yang memerlukan perawatan lebih lanjut.

Definisi Skoliosis

Skoliosis adalah kondisi medis dimana tulang belakang memiliki kelengkungan ke arah samping yang tidak normal, seringkali menyerupai bentuk huruf “S” atau “C”. hal ini dapat terjadi kepada siapa saja dengan derajat kelengkungan ringan, sedang hingga berat, yang tentunya akan mempengaruhi kesehatan fisik serta kualitas hidup penderitanya. Perubahan kelengkungan tulang belakang pada skoliosis dapat menimbulkan gejala tinggi bahu dan dada serta pinggang yang berbeda, sering pegal atau nyeri di salah satu sisi tubuh, hingga sesak nafas pada kondisi yang berat.

Skoliosis dapat terjadi lebih sering pada individu dengan faktor risiko tinggi, faktor-faktor ini dapat mencakup genetik, lingkungan dan gaya hidup. Faktor-faktor genetik dan lingkungan adalah faktor yang sulit dikendalikan dan dimodifikasi, sedangkan gaya hidup menjadi faktor yang paling mudah dimodifikasi agar seseorang dapat terhindar dari penyakit skoliosis.

Pengetahuan mengenai bagaimana postur tubuh, aktifitas fisik, nutrisi dan stress dapat memengaruhi kesehatan tulang belakang, memungkinkan individu dan tenaga kesehatan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Identifikasi dini dan manajemen yang efektif dapat mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita skoliosis.

Faktor postur tubuh dan aktifitas sehari-hari

Tulang belakang memegang peranan penting pada anatomi tubuh manusia, selain tempat melekatnya otot, melindungi jaringan syaraf utama punggung, tulang belakang juga berfungsi menopang tubuh. Tulang belakang yang sehat, jika dilihat dari samping memiliki kurva yang lembut, kurva tersebut membantu tulang belakang menyerap tekanan dari pergerakan tubuh. Dari sisi belakang, tulang belakang akan terlihat lurus kebawah ditengah punggung.

Duduk membungkuk atau melengkung ke depan

Ketika seseorang duduk dengan punggung membungkuk atau melengkung ke depan, tulang belakang menerima tekanan berlebihan pada daerah lumbar (punggung bawah). Hal ini dapat mengakibatkan ketidakseimbangan otot dan ligamen yang mendukung tulang belakang atau memicu perkembangan scoliosis.

Duduk dengan bahu tidak seimbang

Duduk dengan satu bahu lebih tinggi dari yang lain atau dalam posisi miring dapat menyebabkan tekanan tidak merata pada tulang belakang dan menyebabkan lengkungan lateral tulang belakang yang menjadi ciri khas skoliosis.

Berdiri dengan berat badan tidak seimbang

Acapkali kita secara tidak sadar berdiri menumpu pada salah satu sisi kaki atau dengan posisi salah satu lutut terkunci, hal ini dapat menyebabkan distribusi beban ke seluruh tulang belakang tidak seimbang dan menjadi pemicu atau memperburuk kelengkungan tulang belakang.

Tidur dengan postur tubuh tidak tepat

Tidur tengkurap atau mengunakan bantal yang tidak mendukung lekukan alami leher dan tulang belakang dapat menyebabkan postur tidur yang buruk. Posisi tubuh miring dengan meletakkan bantal di kepala dan diantara lulut justru direkomendasikan untuk mensejajarkan kembali tulang belakang, tentunya dengan posisi bantal yang mendukung lekukan alami tulang belakang.

Sedentary lifestyle/ “mager” (malas gerak)

Gaya hidup sedentary atau kurang aktifitas fisik dapat melemahkan otot-otot yang mendukung tulang belakang. Otor-otot yang lemah tidak dapat menstabilkan tulang belakang dengan baik.

Penggunaan gadget yang berlebihan

Penggunaan gadget berlebihan dengan posisi duduk lama sambil melihat ponsel atau laptop seringkali menyebabkan postur membungkuk. Tekanan yang terus menerus pada tulang belakang dalam posisi yang tidak seimbang dapat memicu masalah postur dan resiko skoliosis.

Menggunakan tas atau ransel yang terlalu berat

Membawa tas atau ransel yang berat di salah satu sisi tubuh terus menerus dapat menyebabkan ketidakseimbangan beban pada tulang belakang. Faktor ini paling sering terjadi pada anak-anak dan remaja usia sekolah yang sedang mengalami lonjakan pertumbuhan.

Faktor nutrisi

Kekurangan atau kelebihan nutrisi dapat menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya skoliosis.

Nutrisi berlebih hingga obesitas

Obesitas membuat tulang belakang seseorang bekerja lebih berat saat harus menyangga tubuh dalam posisi duduk maupun berdiri. Bantalan antar tulang dapat menyempit dan terbebani sehingga postur tubuh akan terganggu hingga menimbulkan distribusi beban tubuh yang berbeda dan tidak merata.

Defisiensi kalsium dan vitamin D

Kalsium penting untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang yang kuat, kekurangan kalsium dapat menyebabkan tulang menjadi lemah dan rapuh. Vitamin D membantu penyerapan kalsium dari usus, kekurangan vitamin D dapat mengakibatkan penyerapan kalsium berkurang. Gaya hidup “picky eater” (pilih-pilih makanan) yang tidak mendukung konsumsi asupan makanan tinggi kalsium dan kurangnya paparan sinar matahari tinggi vitamin D menyebabkan individu masa kini rentan mengalami defisiensi kalsium dan vitamin D.

Faktor Stress dan kesehatan Mental

Stress berdampak signifikan pada postur tubuh melalui mekanisme ketegangan otot, kebiasaan duduk yang buruk, penurunan aktifitas fisik dan gangguan tidur.

Ketegangan otot

Ketegangan otot dapat menarik tulang belakang keluar dari posisi alaminya, menyebabkan postur yang buruk dan membuat beban kerja tulang belakang tidak merata. Ketika seseorang mengalami stress, mereka cenderung mengadopsi postur tubuh defensif dan tertutup.

Penurunan aktifitas fisik

Stress dan depresi membuat individu memilih untuk banyak berdiam dan mengalami hendaya untuk melakukan kegiatan sehari-hari yang telah kita bahas sebelumnya, hal ini akan melemahkan fungsi otot dan membuat postur tubuh terganggu.

Gangguan tidur

Stress yang diikuti dengan gangguan tidur, akan memperburuk ketegangan otot dan mengurangi kemampuan tubuh untuk memperbaiki postur yang buruk. Beberapa orang dengan insomnia cenderung tetap melakukan aktifitas sepanjang hari dan malam yang menyebabkan tulang belakang tidak memiliki waktu istirahat dan terus menyangga tubuh dalam waktu lama. Hal ini akan memengaruhi postur tubuh.

Berikut adalah tips-tips singkat yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ini, atau menghindari perburukan pada penderita scoliosis.

Menghindari faktor pencetus

Mencegah lebih baik daripada mengobati, dengan uraian diatas dapat kita pahami hal-hal apa saja yang harus dihindari agar tidak meningkatkan resiko skoliosis.

Olahraga teratur

Olahraga yang teratur dan konsisten dapat menjaga kebugaran dan membantu memperbaiki postur tubuh. Bagi yang ingin memulai dengan langkah kecil, silakan memulai dengan olahraga ringan seperti berenang, plank dan olahraga stretching (peregangan) seperti yoga. Olahraga yang dilakukan secara teratur dan konsisten lebih bermanfaat daripada yang berat namun jarang dilakukan.

Diet seimbang dan pemenuhan kebutuhan nutrisi

Menjaga berat badan dan diet seimbang memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi namun tidak berlebihan sehingga berat badan terjaga ideal. Bila perlu gunakan suplemen dan menjaga agar tidak sedentary lifestyle/ “mager”.

Melakukan teknik relaksasi sederhana dan manajemen stress berkala

Hendaknya setiap orang memiliki alokasi waktu untuk diri sendiri dan melakukan teknik-teknik relaksasi sederhana, serta manajemen stress. Beberapa aktifitas yang dapat membantu dalam proses manajemen stress antara lain beribadah, melakukan hobby dan berbagi cerita melalui jurnal pribadi atau dengan orang terdekat.

Lakukan upaya pencegahan, deteksi dini dan terapi segera bila terdeteksi, agar kemungkinan pulih lebih tinggi dan kualitas hidup lebih baik.

REFERENSI

  • Korbel K, Kozinoga M, Stoliński Ł, Kotwicki T. Scoliosis Research Society (SRS) Criteria and Society of Scoliosis Orthopaedic and Rehabilitation Treatment (SOSORT) 2008 Guidelines in Non-Operative Treatment of Idiopathic Scoliosis. Pol Orthop Traumatol. 2014 Jul 28;79:118-22. PMID: 25066033.
  • Dou Q, Zhu Z, Zhu L, Wang W, Guo L, Ru S, Chen X, Yang L, Lu C, Yan B. Academic-related factors and daily lifestyle habits associated with adolescent idiopathic scoliosis: a case-control study. Environ Health Prev Med. 2023;28:23. doi: 10.1265/ehpm.22-00243. PMID: 37045748; PMCID: PMC10106331.
  • Mitsiaki I, Thirios A, Panagouli E, Bacopoulou F, Pasparakis D, Psaltopoulou T, Sergentanis TN, Tsitsika A. Adolescent Idiopathic Scoliosis and Mental Health Disorders: A Narrative Review of the Literature. Children (Basel). 2022 Apr 22;9(5):597. doi: 10.3390/children9050597. PMID: 35626775; PMCID: PMC9139262.

Related Posts

Sepsis: Ketika Infeksi Yang Tampak Sederhana Menjadi Kondisi Yang Mengancam Nyawa

ArtikelPenyakit Dalam Wednesday, 16 September 2026

Oleh: Undatun Ulfah, S.Kep.,Ners, dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp. P.D.

Bayangkan seseorang mengalami luka kecil karena teriris pisau dapur atau seseorang mengalami infeksi saluran kemih yang awalnya hanya terasa seperti anyang-anyangan.

RSA UGM Raih Seva Paramahita Award untuk Pelayanan JKN

Berita Tuesday, 15 September 2026

Sleman, 15 September 2026 – Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) kembali meraih penghargaan atas komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat.

RSA UGM berhasil memperoleh Seva Paramahita Award untuk Fasilitas Kesehatan Terbaik dalam Pelayanan Kesehatan Program JKN Tingkat Kantor Cabang Sleman Tahun 2026 pada Kategori Kelas B.

Dokter Spesialis Neurologi RSA UGM Selesaikan Clinical Training Program Tingkat Internasional

Berita Friday, 11 September 2026

Yogyakarta, 11 September 2026 – Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) terus berkomitmen mengembangkan kualitas dan keterampilan tenaga medis melalui clinical training program di rumah sakit berskala internasional.

Clinical Training Program dokter Neurologi RSA UGM
Clinical Training Program dokter Neurologi RSA UGM

Komitmen ini ditunjukkan melalui partisipasi aktif dr. Andre Stefanus Panggabean, Sp.N sebagai salah satu dokter spesialis Neurologi di RSA UGM dalam Clinical Training Program on Movement Disorder, Neurosonology, and Neuroimaging di Department of Neurology di National Taiwan University Hospital.

Pengumuman Hasil Seleksi Akhir Dokter Gigi Umum – Klinik Rumah Sehat UGM

Pengumuman Tuesday, 1 September 2026

Pengumuman Hasil Seleksi Akhir Dokter Gigi Umum

Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) mengumumkan Hasil Seleksi Calon Pegawai dengan Perjanjian Kerja untuk formasi Dokter Gigi Umum dengan penempatan di Klinik Rumah Sehat UGM, berdasarkan Pengumuman Nomor 6486/UN1/RSA.1.2/SDM/KP.02.01/2026.

📢 Informasi Hasil Seleksi

  • Seluruh tahapan seleksi telah selesai dilaksanakan, meliputi Seleksi Administrasi, Tes Tertulis dan Wawancara, Psikotes, hingga Tes Kesehatan.
  • Keputusan hasil seleksi akhir telah ditetapkan oleh Panitia Seleksi Rekrutmen RS Akademik UGM.
  • Demi menjaga kerahasiaan data pribadi peserta, panitia tidak mengunggah daftar nama peserta di laman website.
  • Peserta yang dinyatakan LULUS dan DITERIMA telah dihubungi secara langsung oleh Panitia melalui pesan resmi WhatsApp.
  • Proses penempatan kerja bagi peserta yang dinyatakan lulus dan diterima terhitung mulai Selasa, 1 September 2026.

🎉 Hasil Seleksi Akhir

Berdasarkan seluruh rangkaian proses seleksi Rekrutmen Calon Pegawai dengan Perjanjian Kerja formasi Dokter Gigi Umum penempatan Klinik Rumah Sehat UGM, Panitia Seleksi Rekrutmen RS Akademik UGM telah menetapkan hasil seleksi akhir.

Peserta yang dinyatakan LULUS dan DITERIMA telah dihubungi secara langsung
oleh Panitia melalui pesan resmi WhatsApp untuk proses penempatan kerja.

📅 Informasi Penempatan

Formasi Dokter Gigi Umum
Penempatan Klinik Rumah Sehat UGM
Status LULUS dan DITERIMA
Mulai Penempatan Kerja 1 September 2026

⚠️ Informasi Penting

  • Keputusan Panitia Seleksi Rekrutmen RS Akademik UGM bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
  • Panitia tidak mengunggah daftar nama peserta pada laman website demi menjaga kerahasiaan data pribadi peserta.
  • Peserta yang dinyatakan LULUS dan DITERIMA telah mendapatkan pemberitahuan langsung melalui WhatsApp.

🙏 Ucapan Terima Kasih

Panitia Seleksi Rekrutmen RS Akademik UGM mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta atas antusiasme dan partisipasi aktif yang telah diberikan selama mengikuti seluruh proses rekrutmen.

Pengumuman Hasil Seleksi Akhir Dokter Gigi Umum RSA UGM

📄 Download Pengumuman PDF

.

Pencarian

Artikel Kesehatan

  • Anak
  • Jantung
  • Diabetes
  • Kesehatan Jiwa
  • Kulit dan Kelamin
  • Lansia
  • Nutrisi

Informasi Terbaru

  • Sepsis: Ketika Infeksi Yang Tampak Sederhana Menjadi Kondisi Yang Mengancam Nyawa
  • RSA UGM Raih Seva Paramahita Award untuk Pelayanan JKN
  • Dokter Spesialis Neurologi RSA UGM Selesaikan Clinical Training Program Tingkat Internasional
  • Pengumuman Hasil Seleksi Akhir Dokter Gigi Umum – Klinik Rumah Sehat UGM
Universitas Gadjah Mada

Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada

Jl. Kabupaten (Lingkar Utara), Kronggahan, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55291

rsa@ugm.ac.id

0811 2846 042 (IGD, WhatsApp Chat Only)
0811 2548 118 (IGD, Telepon)
0811 2856 210 (Pusat Layanan Informasi, WhatsApp Chat Only)

Artikel Kesehatan

  • Anak
  • Jantung
  • Diabetes
  • Kesehatan Jiwa
  • Kulit dan Kelamin
  • Lansia
  • Nutrisi

Layanan

  • Health Tourism and Wellness
  • Jatayu Homecare and Telemedicine
  • Unit Tranfusi Darah
  • Antarejo
  • Medical Check-Up
  • Klinik Eksekutif
  • Cathlab
  • CPET
  • Pendidikan dan Pelatihan
ARSPTN logo

© Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada