Oleh: Undatun Ulfah, S.Kep.,Ners, dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp. P.D.
Bayangkan seseorang mengalami luka kecil karena teriris pisau dapur atau seseorang mengalami infeksi saluran kemih yang awalnya hanya terasa seperti anyang-anyangan. Kita mungkin menganggapnya sebagai masalah ringan yang akan membaik dengan sendirinya. Namun, pada kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi masalah yang jauh lebih serius, yaitu sepsis. Sepsis terjadi ketika respons tubuh terhadap infeksi menjadi tidak terkendali sehingga justru menyebabkan kerusakan pada organ tubuh sendiri. Dalam kondisi berat, sepsis dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis dan organ-organ vital gagal berfungsi. Kondisi ini disebut syok septik dan dapat berakibat fatal. Yang penting untuk diketahui, sepsis bukanlah sesuatu yang selalu datang secara tiba-tiba tanpa tanda. Mengenali infeksi dan tanda-tanda perburukan sejak dini dapat membantu seseorang mendapatkan pertolongan medis lebih cepat.
Apa Itu Sepsis?
Secara sederhana, sepsis dapat dipahami sebagai respons tubuh yang berlebihan dan tidak terkontrol terhadap suatu infeksi hingga menyebabkan gangguan fungsi organ. Ketika tubuh menghadapi kuman, sistem kekebalan tubuh akan bekerja untuk melawan infeksi. Respons ini sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan yang normal. Masalah terjadi ketika respons tersebut menjadi terlalu berat dan tidak terkendali. Peradangan yang semula bertujuan melawan kuman dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan dan organ tubuh, seperti paru-paru, ginjal, jantung, maupun otak. Pada keadaan yang semakin berat, tekanan darah dapat turun dan aliran darah ke organ-organ vital menjadi tidak mencukupi. Inilah yang dapat berkembang menjadi syok septik. Dengan kata lain, pada sepsis, bukan hanya kumannya yang menjadi masalah, tetapi juga respons tubuh terhadap infeksi tersebut.
Dari Mana Sepsis Berasal?
Sepsis hampir selalu bermula dari suatu infeksi. Infeksi dapat berasal dari berbagai bagian tubuh, tetapi beberapa sumber yang paling sering antara lain: Paru-paru, misalnya pneumonia atau infeksi paru. Saluran kemih, misalnya infeksi saluran kemih atau infeksi ginjal. Kulit dan jaringan lunak, misalnya infeksi pada luka atau jaringan yang mengalami peradangan. Saluran pencernaan atau rongga perut, misalnya infeksi akibat kebocoran atau peradangan berat di dalam perut. Berbagai jenis mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi yang kemudian berkembang menjadi sepsis, terutama bakteri seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus. Namun, perlu diingat bahwa sepsis dapat terjadi pada siapa saja, meskipun risiko terjadinya lebih tinggi pada kelompok tertentu.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Beberapa orang lebih rentan mengalami infeksi berat dan sepsis, antara lain: Orang lanjut usia, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta. Bayi dan anak kecil, terutama pada kondisi infeksi berat. Orang dengan daya tahan tubuh yang menurun, misalnya akibat penyakit tertentu atau penggunaan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh. Penderita penyakit kronis, seperti diabetes, kanker, penyakit paru kronis, penyakit ginjal, atau penyakit hati. Pasien yang baru menjalani pembedahan atau prosedur medis invasif. Ibu hamil atau baru melahirkan, terutama bila terdapat infeksi atau komplikasi tertentu. Pasien yang sering menjalani perawatan di rumah sakit atau pernah dirawat di ruang perawatan intensif (ICU). Orang yang menggunakan antibiotik secara tidak tepat, karena penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dapat mendorong munculnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

Apa Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai?
Salah satu tantangan sepsis adalah gejalanya pada awalnya dapat terlihat seperti infeksi biasa. Seseorang mungkin hanya mengalami demam, batuk, nyeri saat buang air kecil, atau luka yang tampak meradang. Namun, ketika kondisi semakin berat, tubuh dapat mulai menunjukkan tanda bahwa infeksi sudah memengaruhi fungsi organ. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam tinggi atau justru suhu tubuh yang sangat
- Denyut jantung menjadi lebih
- Napas menjadi cepat atau muncul sesak.
- Tekanan darah
- Lemas atau tampak sangat sakit.
- Mual, muntah, atau
- Nyeri tubuh atau nyeri yang terasa berat.
- Bingung, mengantuk berlebihan, sulit diajak berkomunikasi, atau terjadi penurunan kesadaran.
- Perubahan kondisi umum merupakan hal yang
Misalnya, seseorang yang sebelumnya hanya mengalami infeksi saluran kemih kemudian menjadi sangat lemas, bernapas cepat, tampak mengantuk atau bingung, dan tekanan darahnya turun. Kondisi seperti ini tidak boleh dianggap sebagai infeksi biasa dan memerlukan evaluasi medis segera.
Bagaimana Sepsis Ditangani?
- Sepsis merupakan kondisi kegawatdaruratan medis. Semakin cepat dikenali dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan organ yang lebih berat. Penanganan di rumah sakit dapat meliputi:
- Mengatasi infeksi
Bila dicurigai infeksi bakteri, dokter dapat memberikan antibiotik yang sesuai. Pemilihan antibiotik disesuaikan dengan sumber infeksi, kondisi pasien, pola kuman yang mungkin terlibat, serta hasil pemeriksaan mikrobiologi bila tersedia.
- Menghilangkan sumber infeksi Antibiotik saja tidak selalu cukup
Jika terdapat kumpulan nanah (abses), jaringan yang terinfeksi berat, atau sumber infeksi lain yang memerlukan tindakan, dokter dapat melakukan drainase, operasi, atau prosedur lainnya untuk mengendalikan sumber infeksi.
- Menjaga aliran darah dan fungsi organ
Pasien dapat membutuhkan cairan melalui infus, oksigen, dan pada kondisi tertentu obat-obatan untuk mempertahankan tekanan darah agar aliran darah ke organ-organ vital tetap memadai.
- Mengontrol kondisi tubuh lainnya
Dokter juga akan memantau dan menangani kadar gula darah, keseimbangan cairan dan elektrolit, fungsi jantung, paru-paru, ginjal, serta fungsi organ lainnya.
- Terapi pengganti fungsi ginjal bila diperlukan
Pada sebagian pasien dengan sepsis berat, fungsi ginjal dapat menurun hingga terjadi gagal ginjal akut. Dalam kondisi tertentu, pasien dapat membutuhkan terapi pengganti ginjal, termasuk hemodialisis.
Apakah Sepsis Bisa Dicegah?
Tidak semua kasus sepsis dapat dicegah. Namun, mencegah infeksi dan mengenali infeksi lebih awal merupakan langkah penting untuk mengurangi risikonya. Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari antara lain:
- Biasakan mencuci tangan
Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah menyentuh luka atau area yang terinfeksi.
- Rawat luka dengan baik
Luka, terutama luka yang dalam atau luka operasi, perlu dirawat sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Jangan menunggu luka menjadi semakin merah, bengkak, bernanah, atau disertai demam sebelum mencari pertolongan.
- Jangan menyepelekan infeksi
Demam, batuk, nyeri saat buang air kecil, luka bernanah, atau keluhan infeksi lainnya memang tidak selalu berarti sepsis. Namun, bila gejalanya semakin berat atau kondisi tubuh memburuk dengan cepat, segera periksakan diri.
- Gunakan antibiotik secara bijak
Antibiotik bukan obat untuk semua demam atau infeksi. Jangan membeli atau mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi yang tepat dan jangan menghentikan antibiotik secara sembarangan tanpa berkonsultasi dengan dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri sehingga infeksi di kemudian hari menjadi lebih sulit ditangani.
- Kendalikan penyakit kronis
Diabetes, penyakit ginjal, penyakit paru, kanker, dan penyakit kronis lainnya dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi berat. Kontrol penyakit secara teratur merupakan bagian penting dari pencegahan.
- Lengkapi vaksinasi
Vaksinasi dapat membantu mencegah sejumlah infeksi yang berpotensi menjadi berat, termasuk beberapa infeksi saluran pernapasan seperti influenza dan pneumonia.
- Terapkan gaya hidup sehat
Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang baik, tidak merokok, serta menghindari konsumsi alkohol berlebihan membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
- Jangan Tunggu Sampai Terlambat
Sepsis dapat bermula dari sesuatu yang terlihat sederhana: infeksi paru, infeksi saluran kemih, luka pada kulit, atau infeksi di dalam perut. Karena itu, jangan hanya melihat seberapa kecil infeksinya, tetapi perhatikan bagaimana kondisi tubuh secara keseluruhan. Jika seseorang yang sedang mengalami infeksi tiba-tiba menjadi sangat lemas, napas cepat atau sesak, tekanan darah turun, bingung, mengantuk berlebihan, atau mengalami penurunan kesadaran, jangan menunggu kondisi membaik sendiri. Segera cari pertolongan medis.
“Mengenali sepsis lebih awal dapat menjadi langkah penting untuk menyelamatkan nyawa”
Referensi:
- Singer M, Deutschman CS, Seymour CW, et The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA. 2016;315(8):801–810. doi:10.1001/jama.2016.0287.
- Evans L, Rhodes A, Alhazzani W, et al. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Intensive Care Medicine. 2021;47:1181–1247. doi:10.1007/ s00134-021-06506-y.
- Society of Critical Care Medicine (SCCM). Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2026. SCCM; 2026.
- World Health Sepsis. Geneva: World Health Organization; 2024.
- Centers for Disease Control and Preventing Infections That Can Lead to Sepsis. CDC; 2025.


