• PORTAL AKADEMIK
  • IT CENTER
  • RESEARCH
  • PUSAT LAYANAN INFORMASI
  • GAWAT DARURAT
  • KEBIJAKAN PRIVASI
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Sejarah Rumah Sakit Akademik UGM
    • Visi, Misi, Tugas, Motto, dan Kebijakan Mutu
    • Logo Rumah Sakit Akademik UGM
    • Pendidikan Pelatihan
    • Clinical Research Unit
    • Pengabdian Masyarakat
    • Manajemen RSA UGM
    • Pasar Krempyeng
  • Layanan
    • IGD
    • Unit Tranfusi Darah
    • Klinik Eksekutif dan Medical Check Up
      • Klinik Eksekutif
      • Paket Medical Check Up
    • Klinik
      • Klinik Anak
      • Klinik Bedah
      • Klinik Srikandi 1
      • Klinik Subspesialis Bedah
      • Klinik Gadjah Mada Ortopedi Center
      • Klinik Dermatologi, Venereologi, dan Estetika
      • Klinik Gigi dan Mulut
      • Klinik Jantung dan Pembuluh Darah
      • Klinik Kesehatan Jiwa
      • Klinik Mata
      • Klinik Obstetri dan Ginekologi
      • Klinik Paru dan Pernapasan
      • Klinik Penyakit Dalam
      • Klinik Fisik dan Rehabilitasi Medik
      • Klinik Gizi
      • Klinik Saraf
      • Klinik THT-KL
    • Hemodialisa
    • Radiologi
    • Psikologi Anak
    • Antarejo
    • Jatayu Home Care
    • Rawat Inap
    • Health Tourism & Wellness
    • Cerebral Palsy Center
  • Informasi
    • Jadwal Dokter RSA UGM
    • Karir
    • Artikel
      • Artikel Kesehatan
      • Berita
    • Kerja Sama Asuransi
    • Alur Pasien
    • INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT
    • DATA INDIKATOR MUTU
    • Media Monitoring
    • Booklet Edukasi
    • Homestay UGM
  • Kontak Kami
    • Zona Integritas
    • SP4N Lapor
    • E-Komplain
    • Hubungi Kami
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
  • Home
  • Artikel

Melihat Malnutrisi dari Balik Pintu Ruang Rawat Inap

  • Artikel, Nutrisi
  • 1 Oktober 2026, 15.04
  • Oleh : admin

Oleh: Okta Haksaica Sulistyo, S.Gz., Dietisien | Pratiwi Dinia Sari, S.Gz., Dietisien

Ketika mendengar kata malnutrisi, apa yang pertama kali terbayang? Mungkin pasien yang sangat kurus, berat badannya rendah, atau tubuh yang tampak lemah. Namun, di balik pintu ruang rawat inap, malnutrisi tidak selalu terlihat seperti itu. Kadang, tanda awalnya justru sederhana, satu piring makanan yang tidak habis.

Satu piring yang tidak habis, apakah benar masalah?

Di rumah sakit, kita mungkin sering melihat makanan pasien tersisa. Kadang hanya setengah porsi, sepertiga, bahkan hampir tidak tersentuh. Sekilas, hal tersebut terlihat seperti sesuatu yang biasa. Pasien mungkin sedang tidak berselera makan, menu makanan tidak sesuai selera, pasien merasa mual, nyeri, sulit menelan, cepat kenyang, atau merasa terlalu lelah untuk makan. Namun, ketika makanan yang tersisa terus berulang dari waktu ke waktu, kita perlu mulai bertanya: “Apakah pasien mendapatkan cukup nutrisi untuk membantu tubuhnya menghadapi penyakit dan proses penyembuhan?”

Asupan yang terus-menerus tidak mencukupi dapat menjadi salah satu tanda bahwa pasien mulai berisiko mengalami malnutrisi. Jika berlangsung lebih lama, tubuh dapat menggunakan cadangan yang tersimpan, termasuk jaringan otot. Akibatnya, pasien bukan hanya kehilangan berat badan, tetapi juga dapat kehilangan kekuatan dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Jadi, satu piring yang tidak habis mungkin bukan sekadar sisa makanan. Bisa jadi, itu adalah sebuah pesan yang perlu diperhatikan.

Malnutrisi bukan hanya tentang tubuh yang kurus

Salah satu hal yang masih sering terjadi adalah menganggap bahwa pasien yang bertubuh besar tidak mungkin mengalami malnutrisi. Padahal, ukuran tubuh saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi gizi seseorang. Pasien dengan berat badan berlebih atau obesitas tetap dapat mengalami malnutrisi. Misalnya, ketika asupannya tidak mencukupi dalam waktu tertentu, mengalami penurunan berat badan yang bermakna, atau kehilangan massa otot akibat penyakit.

Bayangkan seorang pasien dengan tubuh yang sebelumnya besar. Selama sakit, ia mengalami penurunan nafsu makan dan berat badan. Berat badannya memang masih tergolong besar, tetapi sebagian berat yang hilang dapat berasal dari massa otot. Dari luar, pasien mungkin masih terlihat gemuk. Namun, di dalam tubuhnya bisa terjadi sesuatu yang berbeda, otot berkurang, kekuatan menurun, dan kemampuan tubuh untuk menjalankan fungsi sehari-hari ikut terdampak. Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat malnutrisi. Bukan hanya bertanya, Apakah pasien ini kurus?Tetapi juga, Apa yang sedang terjadi pada tubuh pasien ini?

Ketika angka di timbangan tidak menceritakan semuanya

Berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) memang penting. Namun, keduanya tidak selalu mampu menceritakan seluruh kondisi pasien. Dalam menilai malnutrisi, dietisien juga perlu melihat beberapa hal lain, seperti:

  • Apakah berat badan pasien menurun? Apakah pasien cukup makan?
  • Apakah pasien mengalami kesulitan makan atau gangguang penyerapan nutrisi?
  • Apakah penyakit yang dialaminya meningkatkan kebutuhan atau menyebabkan tubuh kehilangan jaringan?
  • Apakah massa ototnya berkurang?
  • Apakah kekuatan dan fungsi tubuhnya menurun?
  • Artinya, menilai status gizi bukan sekadar “berapa kilogram berat badan pasien?”, tetapi juga Apa yang berubah pada tubuh pasien, mengapa perubahan itu terjadi, dan apa dampaknya terhadap kemampuan tubuh untuk pulih?

Mengapa massa otot begitu penting?

Salah satu komponen yang semakin diperhatikan adalah massa otot. Massa otot dapat dinilai dengan berbagai cara, tergantung kondisi pasien dan fasilitas yang tersedia. Dietisien dapat menggunakan pengukuran tubuh tertentu, seperti lingkar betis, pemeriksaan seperti bioelectrical impedance analysis (BIA), CT atau ultrasound pada kondisi tertentu, maupun pemeriksaan kekuatan dan fungsi seperti handgrip strength. Pemeriksaan fisik yang lebih menyeluruh juga dapat membantu melihat tanda-tanda kehilangan jaringan tubuh.

Bayangkan tubuh seperti sebuah rumah. Berat badan adalah gambaran keseluruhan rumah tersebut. Tetapi kita juga perlu mengetahui kondisi bagian-bagian penting di dalamnya. Otot adalah salah satu bagian penting yang membantu kita bergerak, mempertahankan kekuatan, dan menjalankan berbagai fungsi tubuh. Ketika seseorang sakit dan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, tubuh dapat menggunakan cadangan otot untuk memenuhi kebutuhan energi dan protein. Jika kehilangan massa otot berlangsung terus-menerus, pasien dapat menjadi lebih lemah dan sulit melakukan aktivitas. Pada pasien yang dirawat di rumah sakit, kondisi tersebut tentu menjadi perhatian karena tujuan perawatan bukan hanya membuat penyakit terkontrol, tetapi juga membantu pasien mempertahankan kemampuan tubuh untuk pulih dan kembali beraktivitas.

Lalu, bagaimana dietisien mengenali malnutrisi?

Prosesnya biasanya dimulai dengan skrining gizi, yaitu pemeriksaan awal untuk mengetahui apakah seseorang memiliki risiko mengalami masalah gizi. Jika ditemukan risiko, dietisien kemudian melakukan asesmen gizi yang lebih lengkap. Untuk diagnosis malnutrisi pada orang dewasa, salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM). Secara sederhana, GLIM melihat dua kelompok tanda :

  1. Tanda yang terlihat pada tubuh atau hasil Disebut kriteria fenotip, antara lain:
    • penurunan berat badan,
    • berat badan atau IMT yang rendah,
    • berkurangnya massa
  2. Penyebab yang Disebut kriteria etiologi, antara lain:
    • asupan makanan atau kemampuan menyerap nutrisi yang berkurang,
    • adanya penyakit atau kondisi yang menimbulkan beban metabolik dan/atau

Untuk menegakkan diagnosis berdasarkan GLIM, diperlukan setidaknya satu kriteria fenotip dan satu kriteria etiologi.

Di sinilah peran dietisien dimulai

Ketika menemukan pasien yang berisiko atau sudah mengalami malnutrisi, pekerjaan dietisien tidak berhenti pada menghitung kebutuhan energi dan protein atau menentukan jenis diet. Dietisien perlu memahami mengapa pasien tidak mampu memenuhi kebutuhannya, kemudian merencanakan intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien.

  • Apakah pasien mengalami mual? Apakah sulit menelan?
  • Apakah cepat kenyang?
  • Apakah tekstur makanan tidak sesuai?
  • Apakah pasien membutuhkan makanan dengan energi dan protein yang lebih tinggi? Atau apakah pasien membutuhkan nutrisi tambahan melalui cara lain?
  • Setiap pasien bisa memiliki masalah yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua pasien.

Malnutrisi bukan pekerjaan dietisien seorang diri

Di sinilah kita perlu melihat malnutrisi sebagai masalah bersama. Dietisien memiliki peran dalam melakukan asesmen gizi, menentukan diagnosis gizi, merencanakan intervensi, serta memantau dan mengevaluasi respons pasien. Dokter berperan dalam mengenali dan menangani penyakit serta kondisi medis yang dapat menyebabkan atau memperburuk masalah gizi. Perawat memiliki peran penting dalam mengamati kemampuan pasien makan, jumlah makanan yang dikonsumsi, toleransi terhadap makanan, serta perubahan kondisi pasien. Apoteker dapat membantu menilai penggunaan obat yang mungkin memengaruhi nafsu makan, saluran cerna, atau interaksi dengan nutrisi. Dan keluarga juga merupakan bagian dari tim pelaksana. Karena pada akhirnya, rencana nutrisi yang paling baik sekalipun tidak akan optimal jika pasien tidak mampu, tidak nyaman, atau tidak bersedia menjalaninya.

Malnutrisi adalah kondisi yang dapat terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan atau tidak mampu memanfaatkan nutrisi secara memadai, sehingga terjadi perubahan komposisi tubuh dan dapat berdampak pada fungsi serta proses pemulihan.

Karena itu, semakin dini kita mengenalinya, semakin cepat kita dapat mencari penyebab dan memberikan penanganan yang tepat. Dan untuk melakukan itu, kita membutuhkan lebih dari satu pasang mata. Kita membutuhkan tim. Tema Malnutrition Awareness Week 2026 yang diangkat oleh American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN) adalah “Nutrition Care Is a Team Effort.” Pesan tersebut menekankan bahwa identifikasi, diagnosis, dan penanganan malnutrisi membutuhkan keterlibatan seluruh tim pelayanan kesehatan. Malnutrisi mungkin pertama kali terlihat oleh satu orang. Namun, keberhasilan menanganinya adalah hasil kerja sebuah tim.

Dan mungkin, semuanya bisa dimulai dari satu pertanyaan sederhana, “Hari ini, apakah makanan pasien habis?” Karena terkadang, satu piring yang tidak habis adalah tanda kecil yang memberi tahu kita bahwa tubuh pasien membutuhkan perhatian lebih besar.

Tags: artikel kesehatan dietisien Gizi gizi klinis kesehatan malnutrisi rsa ugm

Related Posts

Malnutrisi Tidak Selalu Terlihat dari Tubuh yang Kurus

Berita Jumat, 2 Oktober 2026

Influenza A dapat menimbulkan gejala yang menyerupai flu pada umumnya. Namun, salah satu perbedaannya adalah suhu tubuh pasien dapat meningkat secara mendadak. Gejala lainnya dapat berupa pegal di seluruh tubuh, sakit kepala, batuk kering, kelelahan, […].

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Dokter Umum – Klinik Korpagama

Pengumuman Kamis, 1 Oktober 2026

Hasil Seleksi Administrasi Rekrutmen Pegawai dengan Perjanjian Kerja – Dokter Umum Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) menyampaikan Hasil Seleksi Administrasi Rekrutmen Pegawai dengan Perjanjian Kerja untuk formasi Dokter Umum dengan penempatan di […].

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: Kehadiran Kita Berarti untuk Sesama

Artikel Selasa, 29 September 2026

Oleh: Karenza Balqist, S.Kep. Ners | dr. Shinta Retno Kusumowati, Sp. K.J. Bunuh diri merupakan masalah serius yang terjadi di seluruh dunia. Kasus bunuh diri menjadi sorotan penting bagi kita semua karena dari tahun ke […].

Pengumuman Rekrutmen Pegawai dengan Perjanjian Kerja – Dokter Umum Klinik Korpagama

Pengumuman Senin, 28 September 2026

Pengumuman Rekrutmen Pegawai dengan Perjanjian Kerja – Dokter Umum Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) membuka kesempatan untuk mengikuti seleksi penerimaan Pegawai dengan Perjanjian Kerja untuk formasi Dokter Umum dengan penempatan di Klinik […].

Pencarian

Artikel Kesehatan

  • Anak
  • Jantung
  • Diabetes
  • Kesehatan Jiwa
  • Kulit dan Kelamin
  • Lansia
  • Nutrisi

Informasi Terbaru

  • Malnutrisi Tidak Selalu Terlihat dari Tubuh yang Kurus
  • Melihat Malnutrisi dari Balik Pintu Ruang Rawat Inap
  • Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Dokter Umum – Klinik Korpagama
  • Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: Kehadiran Kita Berarti untuk Sesama
Universitas Gadjah Mada

Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada

Jl. Kabupaten (Lingkar Utara), Kronggahan, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55291

rsa@ugm.ac.id

0811 2846 042 (IGD, WhatsApp Chat Only)
0811 2548 118 (IGD, Telepon)
0811 2856 210 (Pusat Layanan Informasi, WhatsApp Chat Only)

Artikel Kesehatan

  • Anak
  • Jantung
  • Diabetes
  • Kesehatan Jiwa
  • Kulit dan Kelamin
  • Lansia
  • Nutrisi

Layanan

  • Health Tourism and Wellness
  • Jatayu Homecare and Telemedicine
  • Unit Tranfusi Darah
  • Antarejo
  • Medical Check-Up
  • Klinik Eksekutif
  • Cathlab
  • CPET
  • Pendidikan dan Pelatihan
ARSPTN logo

© Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada