Oleh: Alvita Ghaisani, S.Gz | Editor: Pratiwi Dinia Sari, S.Gz., R.D.
Indonesia dihadapkan dengan triple burden malnutrition yaitu kekurangan gizi (yang ditandai dengan stunting, wasting), kelebihan status gizi (overweight, obesitas) dan kekurangan zat gizi mikro (anemia, GAKY, dll). Hasil dari SSGI 2024 menunjukkan prevalensi wasting pada balita mencapai 7,4%, stunting mencapai 19,4% dan overweight 3.4% (Unicef, 2025). Nutrisi yang adekuat sangat krusial terutama dalam periode kritis 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) di mana perkembangan otak dalam masa yang sangat pesat untuk mencerna informasi.
Apabila individu pada setiap kelompok usia memiliki asupan nutrisi yang memadai, potensi diri akan lebih optimal sehingga dapat memutus rantai kemiskinan dan kesenjangan sehingga dapat meningkatkan kualitas negara (Zulfiani, 2024). Kesehatan yang optimal masuk dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang memiliki target untuk menjamin kehidupan bangsa yang sehat bagi semua kelompok usia pada tahun 2030. Hal ini selaras dengan visi pemerintah untuk Indonesia tahun 2045 menjadi negara berdaulat, maju, adil dan makmur (Gunardi, 2021).
Pemenuhan gizi adekuat dapat diterapkan sehari-hari dengan mengonsumsi makanan dari sumber pangan alami serta mengacu pada pedoman gizi seimbang. Sumber pangan alami yang dimaksud yaitu makanan dari bahan alami yang mengalami minim proses dan tidak mengandung bahan kimia sehingga kandungan nutrisinya masih utuh. Manfaat dari mengonsumsi bahan pangan alami adalah memberikan nutrisi optimal yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi dan balita, menjaga kesehatan bagi kelompok dewasa dan lansia serta mengurangi risiko terjadi sindrom metabolik di masa depan (Siregar et al, 2025).
Pola makan sangat menentukan kesehatan. Saat ini, pola makan mengalami pergeseran karena terjadi peningkatan konsumsi Ultra-Processed Food (UPF). Makanan Ultra-Processed Food telah melewati banyak proses dan olahan serta mengandung kandungan natrium, gula dan lemak jenuh yang cukup tinggi serta rendah mikronutrien (Kurniawati, 2025). Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi UPF secara berlebih meningkatkan prevalensi hipertensi sebesar 21% di Kanada, yang dapat mengganggu keseimbangan tekanan darah (Nardocci et al, 2021). Contoh makanan UPF antara lain minuman ringan berkarbonasi, makanan ringan kemasan, makanan siap saji dan sebagainya.
Pola makan dengan mengonsumsi bahan alami dapat dimulai dari rumah dan dari keluarga. Orang tua memiliki peranan penting dalam membentuk pola makan anak sehingga anak memiliki kebiasaan untuk mengonsumsi makanan minim proses. Pola makan gizi seimbang mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan yaitu isi piringku. Untuk pembagian porsi nya dapat dilihat di gambar bawah berikut:

Pada pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan direkomendasikan bahwa setengah porsi makanan kita berupa menu sayur dan buah. Sepertiga piring berisi makanan pokok dan sisanya berupa lauk-pauk sebagai sumber protein. Makanan pokok sebagai sumber karbohidrat bisa dipenuhi dari berbagai macam jenis makanan, seperti nasi putih, nasi merah, ubi, kentang, singkong, jagung, dan lain-lain. Jenis sayuran dan buah-buahan yang dikonsumsi juga direkomendasikan bervariasi dengan berbagai warna yang beragam untuk mendapatkan vitamin dan mineral yang lengkap. Lauk pauk yang dikonsumsi dapat berasal dari sumber lauk hewani seperti ikan, ayam, telur, dan daging, serta lauk nabati seperti tahu, tempe dan kacang-kacangan. Pemakaian gula, garam dan lemak perlu dibatasi yaitu 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam serta 5 sendok makan minyak/lemak per hari.
Ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis pangan juga masih menjadi tantangan dalam mengupayakan penganekaragaman konsumsi, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan gizi. Perlu adanya diversifikasi pangan dengan menyesuaikan komoditi pangan yang terdapat di daerah masing-masing. Pemerintah mencanangkan program B2SA (Beragam, Bergizi, Sehat dan Aman) untuk menyadarkan masyarakat untuk pentingnya mengonsumsi pangan local.
Keunggulan bahan pangan lokal adalah bahan mudah didapat dan berasal dari alam. Pangan lokal umumnya lebih segar sehingga kandungan vitamin dan mineralnya tetap terjaga. Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat beragam yang dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi makanan yang tersaji di rumah tangga. Bahan pangan lokal di Indonesia meliputi umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, dan talas yang kaya akan karbohidrat kompleks sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama serta dapat menjaga kestabilan gula darah. Selain bahan pangan sumber karbohidrat, Indonesia juga memiliki bahan pangan kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kacang tanah yang merupakan sumber protein dan serat yang penting untuk memperbaiki jaringan tubuh dan menjaga pencernaan. Jenis ikan lokal yang beragam di Indonesia juga merupakan sumber protein dan omega-3 yang dibutuhkan oleh tubuh kita, seperti ikan kembung, ikan cakalang, ikan patin, dan lain-lain.
Dalam tema Hari Gizi Nasional tahun 2026 yaitu Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045, tidak hanya dapat berdiri sendiri tetapi harus diwujudkan bersama melalui lintas sektor baik dari pemerintah, instansi, serta masyarakat perlu bersama-sama menerapkan pentingnya gizi yang seimbang dan optimal agar dapat menciptakan kualitas SDM yang baik sebagai penerus bangsa.
Referensi:
- Badan Pangan Nasional. 13 April 2025. Dorong Diversifikasi Konsumsi lewat Optimalisasi Potensi Pangan Lokal. Siaran Pers. Diakses dari https://badanpangan.go.id/blog/post/dorong-diversifikasi-konsumsi-lewat-optimalisasi-potensi-pangan-lokal
- Darmawanti, B. 2022. Isi Piringku: Pedoman Makan Kekinian Orang Indonesia. Kementerian Kesehatan: Indonesia.
- Gunardi, H. 2021. Optimalisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan: Nutrisi, Kasih Sayang, Stimulasi dan Imunisasi Merupakan Langka Awal Mewujudkan Generasi Penerus yang Unggul. Jurnal Kesehatan Indonesia: Vol (9) No.1
- Kurniawati, N.N., Setyaningsih, A. 2025. Hubungan Kebiasaan Konsumsi Ultra-Processed-Food dan Lingkar Pinggang terhadap Tekanan Darah Dewasa 26-45 Tahun di Puskesmas Kedungmundu. Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan: Vol (6) No.3
- Nardocci, M., Polsky, J. Y., & Moubarac, J. C. (2021). Consumption of Ultra-Processed Foods is Associated with Obesity, Diabetes and Hypertension in Canadian Adults. Canadian Journal of Public Health, 112(3), 421–429. (https://doi.org/10.17269/s41997-020-00429-9)
- Siregar, N. et al. 2025. Sosialisasi Manfaat Realfood bagi Gaya Hidup Sehat Sejak Dini. Jurnal pendidikan Tambusai: Vol (9) No. 2
- UNICEF. 2025. The State of Food Security and Nutrition in the world: Addressing High Food Price Inflation for Food Security and Nutrition . UNICEF
- Zulfiani, E., Fuadah,. L.L. 2024. Peran Gizi dan Ahli Gizi dalam Upaya Pembangunan Nasional di Indonesia. Jurnal Sehat Indonesia: Vol (6) No. 1