• PORTAL AKADEMIK
  • IT CENTER
  • LIBRARY
  • RESEARCH
  • WEBMAIL
  • PUSAT LAYANAN INFORMASI
  • GAWAT DARURAT
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Sejarah Rumah Sakit Akademik UGM
    • Visi, Misi, Tugas, Motto, dan Kebijakan Mutu
    • Logo Rumah Sakit Akademik UGM
    • Clinical Research Unit
    • Pengabdian Masyarakat
    • Manajemen RSA UGM
    • Pasar Krempyeng
  • Diklat
  • Layanan
    • IGD
    • Unit Tranfusi Darah
    • Klinik Eksekutif dan Medical Check Up
      • Klinik Eksekutif
      • Paket Medical Check Up
    • Klinik
      • Klinik Anak
      • Klinik Bedah
      • Klinik Subspesialis Bedah
      • Klinik Gadjah Mada Orthopedi Center
      • Klinik Dermatologi, Venereologi, dan Estetika
      • Klinik Gigi dan Mulut
      • Klinik Jantung dan Pembuluh Darah
      • Klinik Kesehatan Jiwa
      • Klinik Mata
      • Klinik Obstetri dan Ginekologi
      • Klinik Paru dan Pernapasan
      • Klinik Penyakit Dalam
      • Klinik Fisik dan Rehabilitasi Medik
      • Klinik Gizi
      • Klinik Saraf
      • Klinik THT-KL
    • Hemodialisa
    • Radiologi
    • Psikologi Anak
    • Antarejo
    • Jatayu Home Care
    • Rawat Inap
    • Health Tourism & Wellness
    • Cerebral Palsy Center
  • Informasi
    • Jadwal Dokter RSA UGM
    • Artikel
      • Artikel Kesehatan
      • Berita
    • Kerja Sama Asuransi
    • Alur Pasien
    • INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT
    • DATA INDIKATOR MUTU
    • Media Monitoring
    • Booklet Edukasi
    • Homestay UGM
  • Kontak Kami
    • Zona Integritas
    • SP4N Lapor
    • E-Komplain
    • Hubungi Kami
  • Beranda
  • Artikel
  • page. 4
Arsip:

Artikel

Inovasi Di Balik Masalah Sampah Di Yogyakarta Melalui Teknologi Eco-Enzyme

Artikel Tuesday, 24 September 2024

Oleh: drg. Retno hayati Alchusnah | Editor: Dewi Sarastuti, SKM, MPH

Bagaimana Kondisi Pengelolaan Sampah di Yogyakarta?          

Produksi sampah setiap hari semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Namun masalah sampah tak kunjung usai di Propinsi DIY, bahkan sudah memasuki tahap darurat karena penanganannya tidak kunjung usai. Pengelolaan sampah yang baik dapat berkontribusi  untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan/ SDG’s goals (ketersediaan air bersih dan sanitasi layak, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab terhadap sampahnya, serta penanganan perubahan iklim) karena sampah merupakan isu multisektor yang berdampak pada berbagai aspek di masyarakat dan juga ekonomi. Selanjutnya

Mpox, Akankah Menjadi Pandemi Baru ?

Artikel Tuesday, 10 September 2024

Monkeypox atau yang saat ini dikenal dengan Mpox merupakan infeksi virus zoonosis yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV), anggota dari genus Orthopoxvirus. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada monyet pada tahun 1958 di Denmark, dengan kasus pertama pada manusia dilaporkan pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo.

Imunisasi Lengkap, Indonesia Kuat

Artikel Tuesday, 20 August 2024

Imunisasi adalah upaya aktif pencegahan berbagai penyakit menular dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh. Berbagai penyakit menular tersebut dikenal sebagai Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

Gaya Hidup Skoliosis

Artikel Friday, 28 June 2024

Oleh: dr. Fithri Islamiyah Sapuraning Rahayu | dr. Asa Ibrahim Asikin, Sp.OT

Tahukah anda bahwa data dari Scoliosis Research Society (SRS) menyebutkan bahwa 2-3% populasi dunia menderita skoliosis? Selanjutnya

Menelusuri Labirin Parkinson: Definisi, Gejala, dan Tantangan Masa Kini

Artikel Friday, 14 June 2024

Oleh: dr. Farida Niken Astari Nugroho Hati, M.Sc., SpN

Penyakit Parkinson adalah gangguan neurodegeneratif kronis yang ditandai oleh hilangnya sel-sel saraf di otak, khususnya di area yang disebut substantia nigra. Selanjutnya

Lingkungan Sehat Ramah Lansia untuk Lansia Sehat dan Produktif

ArtikelEdukasiLansia Monday, 3 June 2024

Oleh: Dewi Sarastuti, S.K.M., M.P.H

Lansia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas sebagaimana didefinisikan oleh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Selanjutnya

Olahraga Yang Tepat Untuk Lansia : Menjaga Kesehatan dan Kualitas Hidup

ArtikelEdukasiLansia Friday, 31 May 2024

Oleh: dr. Andika Laksmana Kurniadi, SpKFR

Lansia dapat dijelaskan sebagai sekelompok manusia yang telah memasuki usia 60-65 tahun. Kelompok lansia ini secara umum akan mengalami penurunan kondisi tubuh dan kesehatan. Timbulnya beraneka macam penyakit kronis, rata-rata dialami kelompok lansia ini. Meskipun begitu ke depannya diprediksikan manusia kelompok golongan lansia ini jumlahnya akan semakin meningkat. Sehingga kondisi katastrofik akibat penyakit kronis seharusnya bisa dicegah jangan sampai diderita oleh semua lansia, agar tidak membebani lansia itu sendiri, keluarganya dan tentu saja pemerintah. Perlu ada usaha-usaha untuk mewujudkan kondisi lansia yang tetap sehat, bahagia, mandiri, dan bermartabat.

Mengupayakan hidup aktif tidak malas bergerak adalah salah satu usaha mewujudkan kondisi lansia yang sehat tadi. Sehingga sampai pada usia senjanya, para lansia tetap bisa mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-harinya dan meningkatkan kualitas hidupnya. Olahraga adalah kegiatan aktivitas yang terstruktur dan memiliki tujuan tertentu salah satunya untuk memperbaiki kondisi dan kesehatan manusia, termasuk lansia. Namun melakukan olahraga yang tidak sesuai kondisi tubuh juga berpotensi menimbulkan kerusakan ataupun cedera pada tubuh.

Berikut adalah jenis-jenis olahraga yang dapat dilakukan para lansia:

  1. Jalan kaki

Jalan kaki adalah salah satu olahraga yang paling mudah dilakukan oleh lansia. Aktivitas ini tidak memerlukan peralatan khusus dan dapat dilakukan hampir di mana saja. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal “Medicine and Science in Sports and Exercise“, jalan kaki secara teratur dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung, meningkatkan kesehatan tulang, dan meningkatkan suasana hati.

  1. Yoga

Yoga adalah kombinasi dari latihan pernapasan, meditasi, dan gerakan tubuh yang lembut. Untuk lansia, yoga dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal “Frontiers in Psychiatry” menemukan bahwa yoga dapat mengurangi tingkat stres dan kecemasan, serta meningkatkan kualitas tidur pada lansia.

  1. Berenang

Olahraga berenang memberikan manfaat besar bagi kesehatan lansia dengan mengurangi tekanan pada sendi-sendi mereka dan meningkatkan kekuatan otot tanpa menyebabkan stres pada tubuh. Selain itu, berenang juga membantu meningkatkan keseimbangan, kardiovaskular, dan kesehatan mental

  1. Tai Chi

Olahraga Tai Chi, dengan gerakan yang lembut dan pernapasan yang terfokus, tidak hanya meningkatkan fleksibilitas, keseimbangan, dan kekuatan otot pada lansia, tetapi juga telah terbukti mengurangi risiko jatuh dan memperbaiki kualitas tidur serta suasana hati para lansia tersebut.

  1. Latihan beban

Olahraga latihan beban tidak hanya bermanfaat bagi para atlet atau seseorang dengan usia muda, tetapi juga memberikan sejumlah manfaat yang signifikan bagi lansia. Latihan beban dapat membantu meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki kepadatan tulang, dan meningkatkan keseimbangan, yang semuanya sangat penting untuk menjaga kemandirian dan kualitas hidup pada usia lanjut. Studi oleh Fiatarone et al. (1990) menunjukkan bahwa latihan resistans pada lansia dapat menghasilkan peningkatan signifikan dalam kekuatan otot dan fungsional aktivitas sehari-hari.

Saat berolahraga, lansia perlu memperhatikan beberapa hal untuk menjaga kesehatan dan keamanan mereka. Pertama, konsultasikan dengan dokter sebelum memulai program olahraga baru, terutama jika memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu. Kedua, lakukan pemanasan sebelum dan pendinginan setelah berolahraga untuk mengurangi risiko cedera otot dan sendi. Selanjutnya, hindari aktivitas yang terlalu keras atau intensitas yang berlebihan, sesuaikan dengan kemampuan fisik dan kesehatan lansia. Selalu dengarkan tubuh dan hentikan aktivitas jika merasa tidak nyaman atau ada tanda-tanda masalah kesehatan. Terakhir, pastikan untuk minum cukup air dan mengenakan pakaian yang sesuai serta sepatu yang nyaman dan mendukung. Dengan memperhatikan hal-hal ini, lansia dapat menjalani program olahraga dengan aman dan efektif.

Meskipun tubuh mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, tetapi dengan selalu aktif tidak malas bergerak serta melakukan olahraga secara teratur, lansia dapat mempertahankan kesehatan fisik dan mental mereka. Jalan kaki, Yoga, Berenang, Tai Chi, dan Latihan beban adalah beberapa contoh olahraga yang dapat dilakukan untuk lansia. Konsultasikan dengan dokter atau ahli kebugaran sebelum memulai program olahraga baru, terutama jika lansia memiliki kondisi permasalahan kesehatan sebelumnya.

Referensi:

  • Hupin, D., Roche, F., Gremeaux, V., Chatard, J. C., Oriol, M., Gaspoz, J. M., & Barthélémy, J. C. (2015). Even a low-dose of moderate-to-vigorous physical activity reduces mortality by 22% in adults aged ≥60 years: a systematic review and meta-analysis. British journal of sports medicine, 49(19), 1262-1267.
  • Tyagi, A., & Cohen, M. (2016). Yoga and hypertension: a systematic review. Alternative therapies in health and medicine, 22(4), 32-59.
  • Li, F., Harmer, P., Fitzgerald, K., Eckstrom, E., Stock, R., Galver, J., & Maddalozzo, G. (2012). Tai Chi and postural stability in patients with Parkinson’s disease. New England Journal of Medicine, 366(6), 511-519.
  • Lepore, M., Bartolo, M., Zelli, A., Maria Castellano, M., & Cavedon, V. (2017). Swimming and cycling as training modalities for the elderly: Implications of different fitness levels for cardio-respiratory responses and performance. Journal of Science and Medicine in Sport, 20, S64.
  • Fiatarone, M. A., Marks, E. C., Ryan, N. D., Meredith, C. N., Lipsitz, L. A., & Evans, W. J. (1990). High-intensity strength training in nonagenarians: effects on skeletal muscle. JAMA, 263(22), 3029-3034.
  • Sumber gambar : Google
  • Selanjutnya

    Mengenal Demensia: Jangan Maklum dengan Pikun

    ArtikelEdukasi Monday, 27 May 2024

    Oleh: dr. Bayu Pratama Putra, Ph.D. | dr. Gibran Ilham Setiawan, Sp.PD

    Apa itu demensia?

    Demensia atau pikun merupakan sebuah penyakit degeneratif yang bersifat progresif (memberat secara perlahan), disebabkan oleh kerusakan sel saraf otak yang mengakibatkan penurunan fungsi kognitif dan dapat disertai perubahan mood, emosi, perilaku, dan motivasi. Saat ini, lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia mengalami demensia. Sekitar 1,8 juta orang di Indonesia menderita demensia menurut World Alzheimer Report tahun 2019, dan angka tersebut akan meningkat menjadi 7,5 juta orang pada 2050 dikarenakan pertambahan populasi lanjut usia. Setiap 3 detik, 1 orang di dunia mengalami kondisi demensia.

    Penyakit Alzheimer merupakan penyebab demensia yang paling umum dan berkontribusi pada 60-70% kasus demensia. Selain Alzheimer, penyebab lain dari demensia antara lain:

    1. Demensia vaskular, dikarenakan komplikasi penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan stroke, atau kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol
    2. Demensia dengan badan Lewy, merupakan kondisi penumpukan protein abnormal alpha-synuclein dalam sel saraf otak)
    3. Degenerasi bagian frontalis dari otak, disebut frontotemporal dementia
    4. Cedera atau trauma kepala, disebut chronic traumatic encephalopathy
    5. Kekurangan zat nutrisional (terutama asam folat dan vitamin B12)
    6. Infeksi HIV

    Faktor-faktor risiko yang memicu terjadinya demensia antara lain usia (terutama usia 65 atau lebih), jenis kelamin wanita, penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes mellitus, berat badan yang berlebih (overweight) atau obesitas, merokok, konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, kurangnya interaksi sosial, dan juga adanya depresi.

    Apa sajakah tanda dan gejala dari demensia?

    Demensia, seperti demensia Alzheimer, bukanlah suatu kondisi yang normal. Penuaan dengan demensia memiliki gejala kognitif, mood, dan perilaku yang lebih berat dibandingkan penuaan normal. Contoh perbandingan gejala penuaan normal dan demensia antara lain:

    No Penuaan normal Demensia
    1 Lupa hari dan tanggal namun dapat mengingatnya kembali Kehilangan kemampuan menelusuri hari dan tanggal
    2 Terkadang lupa kata-kata yang ingin diucapkan Kesulitan melakukan percakapan
    3 Beberapa kali kehilangan barang, namun dapat menemukannya kembali Sering salah meletakkan barang dan tidak dapat menemukannya
    4 Terkadang salah mengambil keputusan dan penilaian Sering salah mengambil keputusan dan penilaian
    5 Terkadang lupa membayar tagihan bulanan Sering bermasalah dalam membayar tagihan bulanan

    Terdapat 10 tanda dan gejala peringatan yang umum dijumpai pada seseorang dengan demensia Alzheimer, diantaranya:

    1. Kehilangan memori dan gangguan daya ingat
    2. Sulit fokus
    3. Sulit melakukan kegiatan familiar
    4. Disorientasi terhadap waktu dan tempat
    5. Kesulitan dalam memahami informasi visual dan spasial
    6. Gangguan berkomunikasi
    7. Menaruh barang tidak pada tempatnya
    8. Salah membuat Keputusan
    9. Menarik diri dari pergaulan
    10. Perubahan perilaku dan kepribadian

    Deteksi dini merupakan tatalaksana yang efektif pada orang dengan demensia. Segeralah konsultasi ke dokter bila kita mengetahui keluarga atau kerabat kita yang terdapat gejala-gejala di atas.

    Adakah pengobatan untuk demensia?

    Tujuan dari pengobatan demensia adalah untuk mencegah dan mengurangi perburukan gejala kognitif, mood, dan perilaku dengan pendekatan tatalaksana farmakologis dan non-farmakologis

    Hingga saat ini, belum ada terapi obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan demensia. Berbagai obat dapat digunakan untuk membantu mengontrol gejala demensia seperti cholinesterase inhibitors seperti donepezil dan NMDA receptor antagonists seperti memantine. Pengobatan untuk penyakit kronis seperti hipertensi dan kolesterol dapat digunakan untuk mencegah cedera lanjutan pada sistem saraf otak akibat demensia vaskular. Apabila gejala depresi muncul pada pasien, dapat dipertimbangkan untuk pemberian obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs).

    Sedangkan penanganan non-farmakologis dapat dilakukan beberapa hal berikut:

    1. Mengonsumsi asupan makanan bergizi dan menghindari makan-makanan olahan
    2. Berolahraga dan melakukan aktivitas fisik, seperti jalan kaki, bersepeda, olahraga aerobik, dsb.
    3. Mengasah kemampuan otak dan melakukan hobi yang dimiliki, seperti belajar bahasa baru, menyanyi, melakukan kegiatan seni, bermain teka-teki silang, dsb.
    4. Mengontrol kondisi kesehatan jantung, kadar kolesterol, kadar gula darah dengan rutin check-up ke dokter
    5. Menjaga hubungan antar manusia, untuk mengurangi risiko depresi dan penarikan diri ke sosial
    6. Tidak merokok dan mengonsumsi alkohol
    7. Menjaga kesehatan hygiene pribadi (seperti mandi rutin)
    8. Menjaga kualitas dan kuantitas tidur yang baik
    9. Menjaga keselamatan saat di dalam rumah (seperti saat menggunakan alat masak) dan di luar rumah (seperti saat bepergian atau menyetir)
    10. Menyediakan alat bantu pendengaran dan penglihatan bila membutuhkan
    11. Menyiapkan perencanaan kebutuhan kesehatan dan finansial

    Apakah demensia dapat dicegah?

    Hari Alzheimer sedunia diperingati setiap tanggal 21 September, dengan pada tahun 2023 mengambil tema “Never too early, never too late”, yang berarti tidak ada kata terlalu cepat dan terlalu lambat dalam mencegah risiko terjadinya demensia. Disarankan sejak usia muda, kita harus membiasakan melakukan gaya hidup sehat agar mencegah risiko demensia di kemudian hari, seperti: aktivitas fisik, konsumsi makanan tinggi serat dan rendah gula garam lemak, stimulasi otak dengan membaca, bernyanyi, atau bermain game, serta selalu bersyukur dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Pencegahan risiko demensia tersebut juga sebaiknya dilakukan saat usia lansia, agar membantu menjaga kesehatan otak dan mental dan mencegah perburukan kondisi demensia yang dialami.

    Hidup sehat tidak mengenal usia. Mari kita mulai menerapkan gaya hidup sehat, baik usia muda, tua, atau lanjut usia!

    Referensi:

    Alzheimer’s Disease International. World Alzheimer Report 2019: Attitudes to Dementia. Alzheimer’s Disease International. 2019
    Alzheimer’s Indonesia. Statistik tentang demensia. 2019 [cited 2024 May 17]. Available from: https://alzi.or.id/statistik-tentang-demensia
    Arvanitakis, Z., Shah, R., Bennett, D., Diagnosis and Management of Dementia: Review. JAMA. 2019. 322:16: 1589-1599. https://doi.org/10.1001/jama.2019.4782
    Chen, H., Liu, S., Ge, B. et al. Effects of Folic Acid and Vitamin B12 Supplementation on Cognitive Impairment and Inflammation in Patients with Alzheimer’s Disease: A Randomized, Single-Blinded, Placebo-Controlled Trial. J Prev Alzheimers Dis. 2021.8, 249–256.

    https://doi.org/10.14283/jpad.2021.22 Selanjutnya

    Human Papillomavirus

    Artikel Wednesday, 15 May 2024

    Human Papillomavirus

    Oleh: dr. Kharisma Nur Prabowo

    Editor: dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E. (K)

    Apa Itu HPV?

    Human papillomavirus (HPV) adalah salah satu virus penyebab infeksi menular seksual yang paling sering ditemui. Virus ini hanya menginfeksi manusia. Lebih dari 200 tipe HPV yang telah teridentifikasi, namun lebih kurang 40 tipe yang berhubungan dengan kelainan seksual. Tipe HPV yang berbeda dapat menyebabkan penyakit yang berbeda.

    Penyakit apa sajakah yang disebabkan oleh HPV? Bagaimana tanda dan gejalanya?

    HPV dapat menyebabkan beberapa macam gejala infeksi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi infeksi kulit dan infeksi mukosa (selaput lendir) serta bisa berlanjut menjadi keganasan. Berikut ini adalah beberapa penyakit yang umum terjadi yang diakibatkan oleh infeksi HPV:

    1. Infeksi Kulit
      • Cutaneus warts (kutil)

    Pada awalnya biasanya tidak menimbulkan gejala, kemudian tumbuh menjadi lesi. Terkadang menimbulkan nyeri jika terletak pada titik tekan atau bila lesi pecah. Lokasi infeksi umumnya terjadi di tangan atau kaki, terutama pada area yang sering terjadi luka kecil, seperti sekitar buku-buku jari dan kuku. Infeksi ini biasanya tidak memerlukan pemeriksaan penunjang. Pada usia muda, lesi biasanya sembuh spontan dalam 2-4 tahun. Pada pasien dewasa dan lanjut usia, penyembuhan bisa sangat lama.

    1. Infeksi mukosa
      • Kondiloma akuminata (kutil kelamin)

    Infeksi yang terjadi pada area genital. Pada permukaan mukosa, kutil seringkali tampak pucat dan lunak, akan tetapi pada kulit tampak lebih keras dan jelas. HPV-6 dan 11 merupakan penyebab yang paling sering. Seringkali tidak terasa nyeri, akan tetapi terkadang terasa gatal terutama saat bergerak dan berhubungan seksual.

    1. Keganasan/Kanker

    HPV dapat menyebabkan kanker pada daerah orofaring (mulut & tenggorokan) serta organ-organ reproduksi, terutama serviks (leher rahim). Kanker serviks merupakan kanker paling sering kedua pada wanita di Indonesia. Sekitar 87% kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV tipe 16 atau 18. Vaksinasi HPV dapat mencegah lebih dari 90% kanker yang disebabkan oleh HPV. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi HPV dapat menyebabkan kanker, antara lain kondisi immunodefisiensi, perokok aktif maupun pasif, obesitas, dan faktor reproduktif seperti penggunaan kontrasepsi oral.

     Bagaimanakah cara mendiagnosis infeksi HPV?

    Secara umum, infeksi HPV dapat didiagnosis secara langsung dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tambahan dilakukan pada beberapa kondisi terutama pada kasus kondiloma akuminata (kutil kelamin), dengan menggunakan asam asetat. Pada kasus kecurigaan ke arah keganasan/kanker, dilakukan pengambilan sampel dilanjutkan dengan tes biopsi.

    Bagaimanakah cara pengobatan infeksi HPV?

    Ada beberapa cara pengobatan infeksi HPV kutil kelamin, diantaranya adalah dengan menggunakan obat secara topikal berupa krim/salep, larutan asam trikloroasetat, krioterapi (bedah beku), bedah kauterisasi, laser CO2, dan bedah eksisi. Jenis terapi yang akan diberikan tergantung dari ukuran, jumlah, lokasi lesi, ketersediaan alat dan obat, keinginan pasien dan pengalaman dokter yang menangani.

    Bagaimanakah cara pencegahan infeksi HPV?

    Penularan HPV adalah hal yang bisa dicegah. HPV merupakan infeksi yang menular dengan cara kontak kulit secara langsung dan melalui hubungan seksual. Beberapa hal yang dapat meminimalisir terjadinya penularan HPV antara lain:

    1. Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah (abstinence)
    2. Tidak berganti-ganti pasangan seksual
    3. Menggunakan kondom
    4. Menjaga kebersihan personal
    5. Vaksinasi HPV

    Vaksinasi HPV merupakan salah satu usaha pencegahan infeksi HPV. Vaksin HPV melindungi pasien dari tipe-tipe spesifik HPV yang mengakibatkan infeksi yang berpotensi berkembang menjadi kanker/keganasan serta infeksi menular seksual. Di Indonesia sendiri, vaksin HPV sudah masuk kedalam imunisasi dasar wajib pada anak dan sudah diberikan secara bertahap di beberapa wilayah di Indonesia sejak 2016 lalu. Terdapat beberapa macam vaksin yang sudah mendapatkan izin dari U.S. Food and Drug Administration (FDA), antara lain:

    • Vaksin HPV bivalent: HPV tipe 16 dan 18
    • Vaksin HPV quadrivalent: HPV tipe 6, 11, 16, dan 18
    • Vaksin HPV nonavalent: HPV tipe 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58

    Egelkrout EM, Galloway DA. The Biology of Genital Human Papillomaviruses. In: Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, editors. Sexually Transmitted Diseases. New York: Mcgraw-Hill Medical; 2008. p. 463–87.
    Centers for Disease Control and Prevention/National Center for Immunization and Respiratory Diseases. Immunology and Vaccine-Preventable Diseases – Pink Book – Human Papillomavirus [Internet]. 2021 Aug [cited 2024 Mar 27]. Available from: https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/hpv.pdf
    Rusetiyanti N, Susetiati DA, Pudjiati SR. Benjolan Daerah Kelamin. In: Danarti R, Budiyanto A, Pudjiati SR, Siswati AS, Febriana SA, Rayinda T, editors. Clinical Decision Making Series Dermatologi dan Venereologi. Gadjah Mada University Press; 2020. p. 189–96.
    Sterling JC. Human Papillomavirus Infection. In: Kang S, Amagai M, Bruckner AL, editors. Fitzpatrick’s Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2019. p. 3095–106.
    Widaty S, Soebono H, Nilasari H. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter Kulit dan Kelamin di Indonesia. PERDOSKI; 2017
    Centers for Disease Control and Prevention. Cancers Caused by HPV [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2019 [cited 2024 Mar 27]. Available from:

    https://www.cdc.gov/hpv/parents/cancer.html Selanjutnya

    PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

    ArtikelEdukasi Thursday, 2 May 2024

    Oleh: dr. Ahmad Fikri Syadzali, Sp.P | Editor: dr. Astari Pranindya Sari, Sp.P

    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah salah satu dari tiga penyebab kematian di dunia dan sekitar 90% terjadi di negara dengan pendapatan menengah kebawah. Pada tahun 2012, sebanyak 3 juta orang meninggal dunia karena PPOK.

    PPOK adalah penyakit paru yang ditandai dengan adanya keterbatasan aliran udara yang persisten dan umumnya progresif. PPOK memiliki gejala respiratori kronik ( sesak, batuk, dahak dan/ eksaserbasi) karena kelainan pada saluran napas (bronchitis, bronkiolitis) dan/atau alveoli (emfisema). PPOK sering timbul pada usia pertengahan akibat merokok dalam waktu yang lama. PPOK disebabkan karena interaksi gen dan lingkungan yang terjadi selama hidup setiap individu yang dapat merusak paru atau menggangu perkembangan paru.

    Faktor risiko PPOK:

    1. Perokok

    Merokok adalah penyebab utama terjadi PPOK. Risiko PPOK pada perokok tergantung dari dosis rokok yang dihisap, usia mulai merokok, jumlah batang rokok pertahun dan lamanya merokok (Indeks Brinkman). Tidak semua perokok menjadi PPOK, karena factor risiko genetic mempengaruhi setiap individu

    1. Polusi Udara

    Berbagai macam pertikel dan gas yang terdapat di udara dapat menjadi penyebab terjadinya polusi udara. Kayu, serbuk gergaji, batubara dan minyak tanah (bahan bakar kompor) menjadi penyebab tertinggi polusi di dalam ruangan

    1. Infeksi Saluran Napas Bawah Berulang

    Kolonisasi bakteri menyebabkan inflamasi jalan napas dan dapat menimbulkan eksaserbasi.

    1. Sosial Ekonomi

    Sosial ekonomi sebagai factor risiko terjadinya PPOK belum dapat dijelaskan secara pasti. Pajanan polusi di dalam dan luar ruangan, pemukiman padat, nutrisi buruk dan faktor lain yang berhubungan dengan status sosial ekonomi, kemungkinan dapat menjelaskan hal ini.

    1. Tumbuh Kembang Paru

    Pertumbuhan paru berhubungan dengan proses selama hamil, kelahiran dan pajanan saat kecil. Studi metanalisi menyatakan bahwat berat lahir mempengaruhi fungsi paru (nilai VEP1) pada masa anak.

    1. Genetik

    Faktor risiko genetic yang paling sering terjadi adalah mutasi gen Serpina-1 yang mengakibatkan kekurangan α-1 antitripsin sebagai inhibitor dari protease serin.

    1. Jenis Kelamin

    Penelitian terdahulu menyatakan bahwa angka kesakitan dan kematian akibat PPOK lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan, namun saat ini angka kejadian PPOK hamper sama antara laki-laki dan perempuan, terkait dengan bertambahnya jumlah perokok perempuan

    (Gambar: https://doi.org/10.1016/j.jsps.2021.10.008, Alfahad, 2021)

    Sebagian besar PPOK disebabkan oleh inhalasi asap rokok dan partikel berbahaya lainnya yang dapat merusak jaringan paru. Struktur paru terdiri dari tubulus yang disebut pohon bronkus yang berakhir dengan kantung alveolar. Masuknya molekul asing dapat menyebabkan respon inflamasi abnormal yang menyebabkan kontraksi otot polos, hipertrofi kelenjar mukus, dan edema mukosa. Akibatnya, terjadi bronkitis kronis dan gejalanya seperti peningkatan ketebalan dinding saluran napas, hipersekresi mukus, disfungsi silia, dan penyempitan bronkus. Kondisi PPOK lainnya adalah emfisema. ketika molekul iritan dan oksidatif mencapai sel epitel alveolar (AEC), mereka memulai respon imun bawaan dan adaptif. Sebagai mekanisme pertahanan, sel epitel alveolar mengeluarkan sitokin, kemokin, dan faktor lain untuk mengatur sistem kekebalan. Makrofag alveolar juga melepaskan protease destruktif seperti elastase dan matriks metalloproteinase (MMPs) sebagai respons terhadap peradangan. Ketidakseimbangan aktivitas protease dan apoptosis pada akhirnya menyebabkan rusaknya struktur alveoli. Selain itu, pengendapan kolagen yang menyertai proses perbaikan memperburuk kondisi karena alveoli kehilangan sifat elastisnya.

    Diagnosis PPOK harus dipertimbangkan pada setiap pasien yang mengalami dispnea (sesak), batuk kronis atau produksi sputum, dan/atau riwayat pajanan faktor risiko penyakit. Diagnosis PPOK ditegakkan dengan spirometri yang menunjukkan FEV1/FVC pasca bronkodilator < 0,7.

    GEJALA KETERANGAN
    Sesak Progresif

    Bertambah berat dengan aktivitas

    Menetap sepanjang hari

    Berat, skuar bernapas, terengah-engah

    Batuk Kronik Hilang timbul dan  mungkin tidak berdahak
    Batuk Kronik Berdahak Setiap Batuk kronik berdahak dapat mengindikasikan PPOK
    Riwayat terpajan faktor risiko Asap rokok

    Debu dan bahan kimia ditampat kerja

    Asap dapur

    Riwayat keluarga menderita PPOK

     

    Beberapa penyakit paru atau di luar paru bisa memberikan gambaran menyerupai PPOK. Seperti: Asma, gagal jantung kongestif, bronkiektasis, tuberculosis, bronkiolitis obliterans, panbronkiolitis diffuse. Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering ditemukan di Indonesia.

    Pasien PPOK memiliki derajat keparahan. Derajat keparahan dari hambatan saluran napas (airflow obstruction) dilihat dari nilai FEV1 pasca bronkodilator.

    Pasien PPOK (FEV1/KVP < 0.7 pasca bronkodilator)
    GOLD 1 Ringan FEV1 ≥ 80% prediksi
    GOLD 2 Sedang 50 ≤ FEV1 < 80% prediksi
    GOLD 3 Berat 30 ≤ FEV1 < 50% prediksi
    GOLD 4 Sangat berat FEV1 < 30% prediksi

     

    Pengobatan pasien PPOK meliputi berbagai macam cara. Tujuan pengobatan/penatalaksanaan pada pasien PPOK stabil adalah mengurangi gejala, memperbaiki toleransi latihan, memperbaiki kualitas hidup, mencegah progresifitas penyakit, mencagah dan mengobati eksaserbasi, dan mengurangi kematian. Salah satu tatalaksana PPOK adalah dengan edukasi yang diberikan sejak ditentukan diagnosis nya. Secara umum, edukasi yang diberikan berupa pengetahuan dasar tentang PPOK, obat-obatan (manfaat dan efek samping, cara pencegahan, menghindari pencetus dan penyesuaian aktivitas. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif, inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktivitas dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru.

    Berhenti merokok merupakan intevensi yang paling efektif dalam megurangi risiko berkembangnya PPOK dan memperlambat progresivitas penyakit. Delapan juta orang meninggal akibat rokok setiap tahunnya, termasuk 1,3 juta perokok pasif. Di Indonsesia terdapat 69,1 juta perokok pada tahun 2021. Kandungan rokok salah satunya adalah zat-zat radikal dan oksidatif yang dapat menyebabkan peradangan kronik. Selain berhenti merokok, penatalaksanaan non farmakologi yang dapat dilakukan adalah rehabilitasi paru, latihan fisik dan vaksinasi.

    Terapi farmakologis PPOK digunakan untuk mengurangi gejala, mengurangi frekuensi dan keparahan eksaserbasi, serta meningkatkan toleransi olahraga dan status kesehatan. Uji klinis individual belum cukup meyakinkan untuk menunjukkan bahwa farmakoterapi dapat mengurangi laju penurunan fungsi paru (FEV1). Pilihan dalam setiap pengobatan bergantung pada ketersediaan dan biaya pengobatan serta respons klinis yang seimbang terhadap efek samping. Setiap rejimen pengobatan perlu disesuaikan secara individual karena hubungan antara tingkat keparahan gejala, obstruksi aliran udara, dan tingkat keparahan eksaserbasi dapat berbeda antar pasien.

    Obat-obatan

    Bronkodilator adalah obat yang meningkatkan fungsi paru  (FEV1) dan/atau mengubah variabel spirometri lainnya. Bronkodilator bekerja dengan mengubah tonus otot polos saluran napas dan peningkatan aliran ekspirasi. Bronkodilator cenderung mengurangi hiperinflasi dinamis saat istirahat dan selama berolahraga, dan meningkatkan kinerja latihan.

    • Golongan Agonis β-2

    Golongan Agonis β-2 kerja singkat bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak. Kerja utama agonis β-2 adalah merelaksasi otot polos saluran napas dengan menstimulasi reseptor β-2 -adrenergik, yang meningkatkan siklik AMP dan menghasilkan antagonisme fungsional terhadap bronkokonstriksi. Golongan antimuskarinik

    Obat antimuskarinik memblokir efek bronkokonstriktor asetilkolin pada reseptor muskarinik M3 yang diekspresikan di otot polos saluran napas.

  • Kombinasi antimuskarinik dan Agonis β-2
  • Golongan Xantin
  • Selanjutnya

    123456…15

    Pencarian

    Artikel Kesehatan

    • Anak
    • Jantung
    • Diabetes
    • Kesehatan Jiwa
    • Kulit dan Kelamin
    • Lansia
    • Nutrisi

    Informasi Terbaru

    • Tips Cerdas Memilih Makanan Ditengah Hidangan Yang Melimpah
    • Gerai ZIS RSA UGM Berbagi Sembako untuk Keluarga Pasien Dhuafa di Bulan Ramadhan
    • Superflu: Waspada Namun Tidak Perlu Panik
    • Mewujudkan Gizi Optimal dengan Pangan Lokal bagi Generasi Emas
    Universitas Gadjah Mada

    Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada

    Jl. Kabupaten (Lingkar Utara), Kronggahan, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55291

    rsa@ugm.ac.id

    0811 2846 042 (IGD, WhatsApp Chat Only)
    0811 2548 118 (IGD, Telepon)
    0811 2856 210 (Pusat Layanan Informasi, WhatsApp Chat Only)

    Artikel Kesehatan

    • Anak
    • Jantung
    • Diabetes
    • Kesehatan Jiwa
    • Kulit dan Kelamin
    • Lansia
    • Nutrisi

    Layanan

    • Health Tourism and Wellness
    • Jatayu Homecare and Telemedicine
    • Unit Tranfusi Darah
    • Antarejo
    • Medical Check-Up
    • Klinik Eksekutif
    • Cathlab
    • CPET
    • Pendidikan dan Pelatihan
    ARSPTN logo

    © Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada

    KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY